"A-ku minta maaf, Om," jawabku yang tiba-tiba menjadi gugup, suara bergetar dan tangan menggenggam ujung kursi dengan kencang. Jangan sampai karena dia ingat hal itu, membuatnya menjadi benar-benar marah padaku. "Bukan maksud nggak sopan, tapi aku melakukan itu karena dipaksa Maira, dia memintaku untuk menemaninya masuk ke kamar Om. Padahal aslinya aku nggak mau dan aku sudah berusaha menolak, Om.""Memangnya apa yang sebenarnya kalian cari?" Tatapan mata Om Bagas tiba-tiba tajam, seolah menusuk langsung ke jantung, membuatku berdebar tak karuan."Ke-kenapa Om nggak tanya langsung saja ke Miara?" Nanti jika ku jelaskan, takutnya akan jadi masalah. Aku tak mau gara-gara aku, membuat hubungan Om Bagas dan Maira menjadi tambah tidak baik-baik saja. Suaraku pelan, penuh keraguan."Om sekarang tanya padamu.""Tapi aku sendiri nggak tau, Om.""Masa kamu nggak tau?""Beneran." Aku mengangguk cepat, meski tubuhku mulai gemetar—kaki sedikit bergetar di bawah kursi. Semoga saja dia percaya pada
Baca selengkapnya