“Siapa, Mas?” tanyaku, rasa penasaran bercampur waswas. Ada getaran aneh di dadaku, seperti rasa senang yang menyeruak yang tiba-tiba menyelinap tanpa izin.Mas Bilal tersentak dan menoleh ke arahku, seolah baru menyadari kehadiranku. Matanya sedikit membesar, napasnya tampak tertahan sesaat, lalu raut wajahnya berubah tegang.“Om Bagas, Qia. Sial banget kenapa dia bisa ke sini?!” gerutunya dengan raut wajah kesal dan penuh ketegangan. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal samar, seolah sedang menahan amarah yang siap meledak.“Ya sudah tinggal dibuka saja, Mas, ngapain repot,” balasku dengan santai. Namun, tiba-tiba tangan Mas Bilal menarikku dengan kasar. Tubuhku terhuyung saat dia membawaku masuk ke dalam kamar.“Kamu tunggu di sini dan kunci pintu. Pokoknya jangan keluar sebelum aku yang memintanya,” perintahnya dengan nada tegas, nyaris memaksa. Sebelum aku sempat membantah, pintu sudah ditutup dengan cepat, menyisakanku sendirian di dalam kamar yang mendadak terasa sempit dan p
Last Updated : 2026-01-08 Read more