Share

86. Besok??

Penulis: Black Aurora
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-28 18:37:47
Pagi itu udara terasa lebih segar dari biasanya.

Dastan berdiri di depan pagar rumah Arman dengan kaus polos berwarna abu-abu serta celana chino santai, dengan kunci mobil yang masih ada di tangannya.

Ia menekan bel satu kali.

Tak lama pintunya pun terbuka, menampilkan Arman dengan kaus rumahan dan ekspresi yang tidak ramah seperti biasa.

“Kamu lagi?” desisnya. “Ini masih terlalu pagi.”

“Selamat pagi juga, Pak Arman,” balas Dastan ringan. “Saya jemput Kenzo. Semalam sudah janji mau ngajakin main ke taman.”

Arman mendengus, lalu memanggil cucunya di dalam rumah. “Kenzo!”

Seorang anak lelaki tampan berlari keluar dengan penuh semangat serta topi di kepalanya.

“Ayah!” cetusnya antusias melihat Dastan, yang tersenyum sembari mengulurkan tangan. “Sudah siap untuk jalan?”

“Siap, dong!” Kenzo mengangguk cepat, lalu menoleh ke dalam rumah. “Mama nggak ikut?”

Seketika Dastan pun ikut melirik ke arah pintu dengan harapan yang sama, bertemu Marvella.

“Marvella lagi antar M
Black Aurora

Eaa... keceplosan gatuhh pak arman 💆🏻‍♀️💆🏻‍♀️

| 10
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (4)
goodnovel comment avatar
strawberry matcha
Impulsifnya papih nurun ke marvella wkwkwkw yeaaayy besok nikaaahh 🫶🏻🫶🏻🫶🏻
goodnovel comment avatar
Alfiah Ummi Hani
wah klo bapakku sudah d gampar itu..tp ini emang beda konsep.sih
goodnovel comment avatar
listiani darmawan
senengnya baca ini thor..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Mantan Jadi Tetangga    103. Partner Hidup (2)

    Salju masih terus turun. Dastan berdiri di balkon dengan mantel terbuka di tubuhnya. Udara terasa dingin menusuk, tapi tidak ia pedulikan. Pikirannya terus berputar. Ia tahu ia berlebihan. Ia tahu ketakutannya sering menyamar sebagai bentuk perhatian. Sejak menikah, Marvella bukan hanya menjadi istrinya, tapi juga menjadi titik terlemahnya. Satu-satunya hal yang membuatnya kehilangan rasionalitas. Beberapa menit kemudian pintu balkon itu kembali terbuka, dan Marvella keluar dengan selimut tipis di bahunya. “Kamu mau masuk angin?” ucap wanita itu datar. Dastan menoleh. “Bukannya barusan kamu bilang kalau aku mengurung kamu? Aku di sini karena mau bebasin kamu kalau mau pergi, tapi aku nggak mau lihat kamu yang pergi." Marvella kini berdiri di sampingnya sambil menghela napas. “Yang aku maksud, kamu itu terlalu takut.” “Itu karena sebelumnya aku pernah melihat kamu sakit,” ucap Dastan pelan, mengingatkan saat dulu mereka masih bertetangga, dan saat itu Marvella sedang demam par

  • Mantan Jadi Tetangga    102. Partner Hidup

    Salju turun lebih deras dari perkiraan pagi itu. Langit Swiss yang semula cerah berubah kelabu hanya dalam hitungan jam, membuat jendela kamar mewah di hotel mereka di St. Moritz tertutup kabut tipis. Marvella berdiri di dekat kaca, mengenakan sweater rajut krem dengan rambut masih setengah basah, menatap ke luar dengan ekspresi datar. Di belakangnya, Dastan sedang menutup laptop dengan gerakan yang terlalu cepat. “Vel,” panggilnya pelan tapi tegang. “Kamu yakin nggak apa-apa?” Marvella menoleh. "Memangnya aku kelihatan kenapa?” Dastan mengamati wajah istrinya dengan terlalu detail. Warna bibirnya cara ia menarik napas, dan cara bahunya naik turun. “Aku denger kamu batuk dua kali tadi,” ucapnya serius. Marvella menghela napas panjang. “Itu biasa aja, bukan kode darurat.” “Kamu sudah minum teh jahe?” “Sudah.” “Vitamin?” “Sudah.” “Leher kamu hangat?” “Sudah, Pak CEO.” Dastan berdiri dari kursinya dan bergerak mendekat. Satu tangannya refleks menyentuh dahi Marvella. “Ma

  • Mantan Jadi Tetangga    101. Mas Pacar

    Ara terdiam sepersekian detik. Lalu tertawa sampai memegangi perut. “Gila,” katanya. “Ini pertama kalinya aku lihat ada cowok yartakut disentuh sama cewek cantik.” Reyhan bersedekap defensif. “Saya nggak takut, tapi menghargai batasan.” Ara pun berhenti tertawa, dan kini menatapnya lebih serius. “Oke. Aku akan berhenti bercanda sekarang.” Mendengarnya, membuat Reyhan sedikit merasa lega. Syarafnya yang tegang seketika langsung mengendur. “Terima kasih.” Ara kembali mendekat dengan perlahan hingga jaraknya kini cukup dekat untuk membuat Reyhan menahan napasnya. “Tapi aku mau satu hal, Reyhan” Pria itu pun kembali waspada. “Apa?” Ara mengulurkan satu tangannya. “Pegang tangan aku.” Reyhan menatap tangan itu seakan memandangi benda yang terlarang. “Untuk… apa?” “Agar di luar sana kita terlihat wajar.” Beberapa saat Reyhan tampak ragu, namun pada akhirnya ia mengulurkan tangannya. Namun begitu jari mereka bersentuhan, ia kembali menegang. Karena Ara menggenggam t

  • Mantan Jadi Tetangga    100. Staf Magang

    Suara decap dari dua bibir dan dua lidah itu terdengar nyaring di dalam kamar yang hening. Kedua insan itu terlalu larut dalam penyatuan bibir serta lidah, seiring dengan desir-desir gairah yang terasa semakin terasa penuh. "Not bad," bisik Ara sambil tersenyum di sela-sela ciumannya. Ternyata cowok culun ini lumayan jago juga berciuman. Senyumnya pun semakin lebar ketika merasakan jemari panjang Reyhan yang menangkup tengkuknya kuat, lalu kembali melanjutkan ciuman itu dengan lebih menggebu-gebu. See? Ara tahu Reyhan pasti tidak kebal pada pesonanya. Rata-rata pria memang tidak akan bisa menolak wanita cantik, kecuali Mas Dastan. Dia sih pasti karena sudah kena peletnya Tante Marvella. "Umm..." Ara masih tersenyum di sela-sela ciuman mereka, sebelum kembali membalas dengan lebih agresif. Kedua tangannya yang semula bertengger di dada Reyhan, kini mulai bergerak turun. Terus turun dan turun, hingga menyentuh dan meremas lembut bagian sensitif pria itu. Reyhan pun se

  • Mantan Jadi Tetangga    99. Rindu

    “Kok nggak bisa ditelpon, sih?” Dastan berguman, sambil menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut. Barusan masih ada nada sambung, bahkan sempat satu kali berdering. Lalu tiba-tiba... klik! Terputus begitu saja. Ia pun berinisiatif mencoba menelepon Reyhan lagi. Namun setelah tiga kali, masih saja tidak aktif. Dastan mendengus pelan, lalu memasukkan ponsel ke saku mantel tebalnya dan menghela napas panjang. Sudahlah. Mungkin Reyhan sedang sibuk. Atau ponselnya jatuh ke got. Atau diculik oleh cewek cantik dan disekap di dalam kamarnya. Biar si Reyhan nggak jomblo lagi. Siapa tahu saja, kan? Perandaiannya bisa jadi doa, begitulah yang dipikirkan oleh Dastan, tanpa sadar jika feeling-nya benar-benar tepat. Swiss di pagi itu terlalu indah. Pegunungan Alpen berdiri megah dengan puncak berselimut salju, langit biru bersih tanpa noda, dan udara dingin yang menggigit tapi menyegarkan. Mereka sedang berada di salah satu destinasi wisata paling terkenal di Swiss. Sebuah desa keci

  • Mantan Jadi Tetangga    98. Akhirnya

    Saat ini, Reyhan sedang menatap orang tua Ara yang berdiri tegak di depan mereka. Wajah ayah dan ibunya terkejut melihat putri mereka datang bersama seorang pria jangkung dengan mengenakan jas yang rapi. Reyhan menatap balik dengan santai, mencoba mengumpulkan kesan ‘tenang dan sopan’ meski jantungnya berdegup nggak karuan. “Ibu, ayah… kenalin ini Reyhan, pacarku,” ucap Ara cepat. Ibu Ara menatap Reyhan dari atas ke bawah dengan ekspresi menilai. “Oh. Sudah berapa lama kalian bersama?” tanyanya dalam nada penuh rasa ingin tahu tapi juga terlihat skeptis. “Seminggu," jawab Ara. “Sebulan," jawab Reyhan bersamaan. Ibu Ara pun menatap keduanya dengan alis terangkat bingung. “Eh? Gimana ceritanya bisa berbeda? Seminggu atau sebulan?” Dengan gaya sok tenang, Reyhan meraih tangan Ara, lalu mengecup jemarinya pelan sebelum berkata dengan suara yang lembut tapi sedikit dramatis. “Sebulan, adalah waktu yang saya butuhkan untuk mendekati Ara. Dan seminggu, adalah persisnya wak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status