Sebagai laki-laki dan suami, tentu ucapan Mita menyentil ego dan harga diri Pram.Pram menunduk dalam, menyadari kemungkinan untuk bersama kembali sangatlah kecil.Pram mendongak, matanya memerah. Alih-alih memohon maaf, ia justru memilih senjata lama para pengecut, pengalihan isu."Mengapa kau jadi sekeras batu begini, Mit?" suaranya rendah, bergetar antara frustrasi dan intimidasi."Jangan-jangan... kau sudah memiliki laki-laki lain yang menjanjikan surga padamu? Siapa dia? Gara?"Nama itu disebut. Bayangan Gara, pria yang selalu ada saat Pram menorehkan luka yang begitu dalam,sempat melintas cepat di benak Mita.Namun, Mita tidak membiarkan riak emosi itu naik ke permukaan. Ia justru menyunggingkan senyum sinis yang penuh ejekan, sebuah senyuman yang belum pernah Pram lihat selama belasan tahun pernikahan mereka."Luar biasa," bisik Mita pelan, hampir seperti desis. “Yang jelas-jelas selingkuh itu kamu, Mas. Kenapa sekarang malah menuduh aku?”Mita menggeleng perlahan, matanya men
Terakhir Diperbarui : 2026-01-07 Baca selengkapnya