INICIAR SESIÓNRuang sempit di dalam mobil itu mendadak kehilangan oksigen. Wajah Gara hanya terpaut beberapa inci, begitu dekat hingga Mita bisa menghitung setiap helai bulu matanya.Napas Gara yang hangat dan beraroma kopi pahit menerpa bibir Mita, menciptakan getar halus yang mengkhianati logikanya.Dunia seolah berhenti berputar. Magnet di antara mereka menarik begitu kuat, hingga bibir Gara hampir menyentuh miliknya.Mita memalingkan wajah tepat saat Gara memajukan kepalanya. Ciuman itu mendarat di pipi, singkat, salah sasaran, dan meninggalkan rasa panas yang menjalar hingga ke dada.Gara membeku.Kecewa singgah sepersekian detik, lalu tenggelam oleh sesal yang lebih dalam. Ia menarik diri, seperti tersadar telah melangkah terlalu jauh.“Maaf,” ucap Gara lirih. Sebuah nada kekalahan dari seorang pria yang biasanya selalu memegang kendali.Mita tidak berani menoleh. Ia takut jika ia menatap mata Gara, ia akan luluh.“Antar aku pulang,” ucap Mita, suaranya setipis kertas namun setajam sembilu. T
Gara mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Di dalam benaknya, sebuah memori berputar layaknya kaset rusak, bayangan sang mama, wanita yang seharusnya ia muliakan, sedang mengusap perut buncitnya sembari menekan tombol transfer di ponsel. Sejumlah uang dengan digit fantastis mengalir ke rekening Pram.“Siapa sebenarnya yang memanfaatkan siapa?” batin Gara liar.Apakah Pram adalah predator ulung dengan jaringan wanita simpanan yang ia kuras hartanya demi gaya hidup kelas atas?Ataukah pria itu hanyalah parasit narsistik yang membangun istananya dari puing-puing hati yang ia manipulasi?Pikiran itu meracuni darah Gara, membuatnya mual.Keheningan di kabin mobil itu terasa mencekam, seolah oksigen perlahan tersedot keluar. Mita, yang duduk tepat di samping Gara, menangkap perubahan drastis itu.Ibu satu anak itu melihat raut wajah Gara yang pucat pasi, tatapan matanya kosong namun penuh kegelisahan yang meledak-ledak.Rasa penasaran yang selama ini terkunci di dasar hati M
Langkah Pram terasa berat, seolah beton konveksi Buana Busana baru saja runtuh menimpa bahunya.Untuk pertama kalinya dalam belasan tahun pernikahan mereka, Pram menyadari satu hal yang selama ini ia sepelekan, Mita bukan sekadar istri yang penurut, tapi dia adalah otak di balik kejayaannya.Dan kini, otak itu telah berbalik menyerangnya dengan presisi yang mematikan.Pram kalah langkah. Total. Mita tidak hanya pergi membawa luka, tapi juga membawa seluruh amunisi yang Pram butuhkan untuk bertahan hidup.Pram pulang dengan harapan mendapatkan perlindungan di pelukan Amara. Namun, yang menyambutnya di apartemen bukanlah ketenangan, melainkan rentetan kalimat tajam yang terasa begitu panas di telinga."Apa kau bilang? Sertifikat ruko?" Amara berdiri di tengah ruang tamu, matanya yang biasa terlihat menggoda kini membelalak penuh tuntutan. "Untuk apa, Pram?""Amara, dengarkan aku dulu...""Kau sudah memberikan ruko itu padaku sebagai jaminan masa depanku! Aku tidak akan menyerahkannya ke
Sebagai laki-laki dan suami, tentu ucapan Mita menyentil ego dan harga diri Pram.Pram menunduk dalam, menyadari kemungkinan untuk bersama kembali sangatlah kecil.Pram mendongak, matanya memerah. Alih-alih memohon maaf, ia justru memilih senjata lama para pengecut, pengalihan isu."Mengapa kau jadi sekeras batu begini, Mit?" suaranya rendah, bergetar antara frustrasi dan intimidasi."Jangan-jangan... kau sudah memiliki laki-laki lain yang menjanjikan surga padamu? Siapa dia? Gara?"Nama itu disebut. Bayangan Gara, pria yang selalu ada saat Pram menorehkan luka yang begitu dalam,sempat melintas cepat di benak Mita.Namun, Mita tidak membiarkan riak emosi itu naik ke permukaan. Ia justru menyunggingkan senyum sinis yang penuh ejekan, sebuah senyuman yang belum pernah Pram lihat selama belasan tahun pernikahan mereka."Luar biasa," bisik Mita pelan, hampir seperti desis. “Yang jelas-jelas selingkuh itu kamu, Mas. Kenapa sekarang malah menuduh aku?”Mita menggeleng perlahan, matanya men
“Aku tidak akan membiarkan Tante hanya berdua dengan pria brengsek itu.”Suara Gara rendah, namun penuh penekanan yang bergetar. Tangannya mengepal di sisi tubuh, urat-urat di lehernya menegang saat tatapannya menghunus tajam ke arah sosok pria yang duduk angkuh di sofa ruang kerja Mita.Mita menghela napas, menyentuh lengan Gara dengan lembut, sebuah gestur menenangkan yang justru membuat Gara semakin enggan beranjak.“Tenang saja, Gara. Semua akan baik-baik saja.”“Tenang?” Gara berbalik, menatap Mita dengan mata yang memerah. “Tante lupa apa yang terjadi beberapa hari yang lalu? Dia hampir mencelakai Tante!”Ada rasa cemburu yang mengiris di balik proteksinya. Dia takut, bukan hanya karena fisik Mita yang terancam, tapi dia takut pada sisa-sisa kenangan yang mungkin masih tersimpan di hati Mita. Dia takut Mita akan goyah.“Dia tidak akan berani melakukannya lagi,” ucap Mita, suaranya begitu tenang, seolah dia sudah mengendalikan keadaan. “Jika dia melakukannya lagi, itu akan menjad
Pram merasakan seolah oksigen di ruangan itu mendadak menguap.Dunia yang selama ini ia kendalikan mendadak goyah, miring, dan siap menimpanya. Jantungnya berdegup liar, menghantam rongga dada dengan ritme yang menyakitkan.Jadi, anak Amara tahu.Pikiran itu menyengatnya seperti bisa ular. Selama ini ia merasa paling cerdik, merasa telah menidurkan lawan-lawannya dalam kenyamanan palsu.Namun sekarang, kenyataan pahit menghantamnya, dialah yang selama ini sedang ditidurkan, dibiarkan terbuai dalam rasa aman yang semu, hanya untuk diseret ke meja eksekusi pada saat yang paling tidak terduga.Pram menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti dipenuhi pecahan kaca. Ia berusaha keras mengatur napas, membusungkan dada untuk menutupi gemetar halus di tangannya.“Kau lancang,” desis Pram. Suaranya serak, mencoba memungut sisa-sisa kuasa yang sudah remuk. “Di mana Mita?”Gara tidak berkedip. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyum yang dingin, hampa, dan sama sekali tidak menyentuh matanya y







