LOGIN"Urusan motor biar Mama yang tanggung," ucap Mita. Suaranya datar, namun jemarinya yang merapikan kerah seragam Samudra sedikit gemetar.Mita tidak ingin Samudra melihat kegelisahannya. "Kamu jangan mikir macam-macam. Fokus sembuh. OSN sudah di depan mata, Sam."Samudra menatap ibunya, ragu. “Tapi itu motor Mas Gara, Ma.”"Nanti Mama yang bicara." Mita menegakkan punggung, memberi nada final yang tak bisa didebat.Bagi Mita melindungi Samudra adalah satu-satunya misi yang tersisa di hidupnya yang porak-poranda. "Yang Mama mau cuma kamu sehat. Itu saja."Samudra mengangguk. Ada lega yang tak sepenuhnya ia sembunyikan. Ia meraih tasnya, lalu berdiri di depan cermin sebentar. Bahunya masih pegal, tapi wajahnya lebih cerah.Mereka keluar hampir bersamaan. Pintu dikunci. Pagi masih muda.Di depan rumah, Gara sudah menunggu. Bersandar di mobil. Kemeja polos, lengan tergulung. Rambutnya rapi seadanya. Wajah yang terlalu muda untuk menunggu dengan sabar, tapi justru di situlah masalahnya.Mit
Udara malam di lorong apartemen itu terasa mencekam, namun Monic tetap berdiri di sana dengan gaun sutra yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Jemarinya yang lentik sengaja memainkan ujung rambutnya saat pintu di hadapannya terbuka.“Papa yang menyuruh aku datang, Mas,” ucap Monic. Suaranya dibuat serak basah, nada manja yang selalu ia latih di depan cermin. Ia menatap Gara dengan binar mata yang ia harap mampu menarik perhatian.Bukannya terpesona, rahang Gara justru mengeras. Baginya, wangi parfum Monic yang menyengat adalah polusi. Setiap gerak-gerik gadis di depannya ini hanyalah akting murahan yang membuatnya semakin mual.“Boleh aku masuk?” Monic melangkah satu kaki ke depan, mencoba memperpendek jarak hingga ia bisa mencium aroma maskulin Gara yang dingin.“Ada perlu apa?” potong Gara cepat. Suaranya datar, sedingin es, dan setajam sembilu. “Katakan di sini saja. Aku sudah ngantuk mau tidur cepat.”Monic memaksakan senyum meski hatinya mencelos. Penolakan itu selalu tera
“Gar, Sam itu lebih pantas jadi adik kamu.”Gara tidak lantas tersinggung. Ia justru mengulas senyum tipis yang membuat sudut matanya berkerut, tipe senyum yang selalu berhasil membuat pertahanan Mita goyah.“Kalau begitu, besok aku tanya langsung saja pada Sam. Apa dia mau naik level jadi anakku?”“Nggak usah aneh-aneh, kamu!” Mita menyambar cepat, suaranya naik satu oktav. Ada nada peringatan, tapi juga ada getar yang gagal ia sembunyikan.Mita memalingkan wajah, berpura-pura sibuk dengan kancing blusnya yang sebenarnya sudah rapi. Ia ingin mengabaikan kalimat Gara yang terdengar seperti bualan semata, namun jiwanya yang telah lama mengering di bawah naungan kesepian, mendadak terasa seperti disiram air segar. Sialnya, bunga-bunga itu mulai bermekaran di tempat yang salah.Ingat usiamu, Mita, bisiknya dalam hati. Ia mencoba memanggil kembali kewarasannya. Baginya, apa yang dilakukan Gara hanyalah gejolak jiwa muda yang haus tantangan, seperti pendaki yang ingin menaklukkan puncak pa
Ruang tamu itu mendadak terasa sempit, sesak oleh aroma antiseptik yang menguar dari luka lecet di lutut Samudra.Mita menatap putranya, lalu beralih pada motor yang terparkir miring di halaman. Jantungnya masih berdegup kencang, menyisakan sisa-sisa trauma yang belum sepenuhnya luruh."Mama... enggak marah?" suara Samudra memecah keheningan, terdengar kecil dan sarat akan rasa bersalah.Mita tidak langsung menjawab. Ia hanya menggeleng, meski ada gejolak yang ingin meledak di dadanya. Ia memaksakan sebuah senyum, jenis senyum yang tidak sampai ke mata, namun cukup untuk menenangkan remaja itu.Melihat Samudra masih bernapas dan berdiri di depannya adalah mukjizat yang tidak ingin ia rusak dengan bentakan.Nanti saja, batin Mita. Nanti, saat gemetar di tangannya hilang, ia akan menjelaskan lagi mengapa ia begitu keras melarang Samudra menyentuh setir di jalan raya. Bukan karena ia mengekang, tapi karena ia tahu betapa cepat maut bisa menjemput di aspal hitam."Mama jangan marah sama M
Hening di dalam mobil itu mendadak terasa mencekik. Mita memaku tatapannya pada profil samping wajah Gara.Sebagai seorang ibu, dia memiliki firasat yang tajam terhadap setiap perubahan nada bicara putranya, juga pada pria di sampingnya ini.“Apa yang terjadi dengan Sam?” tanya Mita tegas.Suara ibu satu anak itut tidak tinggi, namun mengandung otoritas yang menuntut kejujuran mutlak. Ada getar kekhawatiran yang ia sembunyikan di balik ketenangan palsunya.Gara berdeham, jemarinya mengetuk kemudi dengan ritme yang tidak beraturan.“Tidak ada yang serius, tapi… memang ada sedikit masalah.”“Sam digerebek bersama Binar?”Gara menginjak rem mendadak hingga tubuh mereka sedikit terdorong ke depan. Ia menoleh dengan mata membelalak. “Ha? Dari mana pikiran itu datang?”“Yang aku tahu mereka hanya belajar bersama. Tapi sejak...” Mita menggantung kalimatnya, matanya beralih menatap jalanan yang mulai kabur oleh bayangan masa lalu. “Keluarga kami ada masalah, Sam kehilangan arah. Dia jarang me
Ruang sempit di dalam mobil itu mendadak kehilangan oksigen. Wajah Gara hanya terpaut beberapa inci, begitu dekat hingga Mita bisa menghitung setiap helai bulu matanya.Napas Gara yang hangat dan beraroma kopi pahit menerpa bibir Mita, menciptakan getar halus yang mengkhianati logikanya.Dunia seolah berhenti berputar. Magnet di antara mereka menarik begitu kuat, hingga bibir Gara hampir menyentuh miliknya.Mita memalingkan wajah tepat saat Gara memajukan kepalanya. Ciuman itu mendarat di pipi, singkat, salah sasaran, dan meninggalkan rasa panas yang menjalar hingga ke dada.Gara membeku.Kecewa singgah sepersekian detik, lalu tenggelam oleh sesal yang lebih dalam. Ia menarik diri, seperti tersadar telah melangkah terlalu jauh.“Maaf,” ucap Gara lirih. Sebuah nada kekalahan dari seorang pria yang biasanya selalu memegang kendali.Mita tidak berani menoleh. Ia takut jika ia menatap mata Gara, ia akan luluh.“Antar aku pulang,” ucap Mita, suaranya setipis kertas namun setajam sembilu. T







