MasukSuara dengung rendah yang keluar dari lantai kapal induk Harapan Kita bukan lagi sekadar getaran mesin, itu adalah sebuah frekuensi yang merayap masuk ke dalam sumsum tulang. Di dalam ruang analisis yang kini hanya diterangi oleh lampu darurat merah yang berkedip, Tri merasakan sensasi seolah-olah seluruh sel di tubuhnya sedang dipaksa untuk bergetar pada ritme yang sama. Sistem komputer di hadapan mereka membeku, menampilkan serangkaian simbol Sanskerta yang terus berputar-putar seperti pusaran air yang tak berujung.
"Sistem kendali utama terkunci total," teriak Dina sambil memukul meja kontrol yang tak lagi merespons. "Ini bukan serangan siber biasa. Mereka mengirimkan pulsa elektromagnetik melalui air yang disinkronkan dengan struktur baja kapal ini. Lambung kapal kita sekarang berfungsi sebagai antena raksasa untuk Raihan!"Adrian mencoba menghubungi anjungan melalui radio taktis di bahunya, namun yang terdengar hanyalah suara statis yang sesekali berubah menjaSuara alarm evakuasi melolong panjang, bersahutan dengan deru air laut yang mulai masuk ke ruang pemberat kapal induk Harapan Kita. Kemiringan dek kini mencapai lima belas derajat, membuat setiap langkah di atas lantai baja yang licin menjadi perjuangan hidup dan mati. Di tengah kepulan asap merah dari suar darurat, ratusan kru berkumpul di area sekoci dengan wajah yang tidak lagi hanya memancarkan ketakutan akan tenggelam, melainkan ketakutan pada orang yang berdiri di samping mereka.Adrian berdiri di depan barisan sekoci nomor empat, senjatanya masih terhunus, sementara Tri berada di sampingnya dengan botol reagen fenolftalein yang tersisa di tangannya. Prosedur evakuasi kali ini sangat lambat dan menyakitkan, tidak ada seorang pun yang diizinkan masuk ke dalam sekoci tanpa melewati "Uji Filter"."Satu per satu! Ulurkan telapak tangan kalian!" teriak Adrian, suaranya parau melawan kebisingan mesin yang sekarat dan deburan ombak yang menghantam lambung
Lampu-lampu koridor kapal induk Harapan Kita berkedip dengan irama yang tidak wajar, menciptakan ilusi visual bahwa dinding-dinding baja itu sedang bernapas. Bau ozon bercampur aroma belerang yang tajam merayap keluar dari lubang ventilasi, membawa kabar buruk bagi siapa pun yang masih memiliki indra penciuman manusiawi. Kabar tentang "Dua Belas Saudara" telah berubah menjadi wabah paranoid yang lebih mematikan daripada virus mana pun. Di setiap persimpangan dek, para kru kini berdiri dengan jarak yang lebar, saling menatap dengan mata yang penuh kecurigaan, mencari tanda-tanda mekanis di balik senyuman rekan kerja mereka. Adrian berdiri di pusat kendali, tangannya masih mencengkeram erat bahu Tri, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, wanita itu akan memudar menjadi asap ungu. Ia menatap dua petugas keamanan yang baru saja masuk untuk melapor. Mereka tampak sempurna, namun Adrian merasa bulu kuduknya berdiri saat melihat salah sa
Udara di dalam ruang analisis yang terkunci mendadak terasa sedingin es. Tri berdiri terpaku di depan monitor, matanya tak berkedip menatap layar yang menampilkan sosok di koridor luar. Sosok itu, seorang wanita yang secara anatomi identik dengan dirinya berdiri dengan keanggunan yang mengerikan. Setiap inci wajahnya, dari lekuk rahang hingga garis mata, adalah cerminan sempurna dari Tri, namun ada sesuatu yang sangat salah pada tatapannya. Matanya yang sepenuhnya hitam pekat, tanpa selaput putih, seolah-olah merupakan lubang tanpa dasar yang menyedot cahaya di sekitarnya."Dina! Adrian! Apakah kalian mendengarku?" Tri berteriak ke arah interkom, namun hanya suara dengung statis yang kembali padanya."Mereka tidak bisa mendengarmu, Kakak," suara dari pengeras suara itu kembali terdengar, kali ini lebih jernih, membawa nada ejekan yang dingin. "Mereka sedang sibuk menjinakkan resonansi di dek bawah, sebuah distraksi kecil yang kuberikan agar kita bisa bicara... dari
Suara dengung rendah yang keluar dari lantai kapal induk Harapan Kita bukan lagi sekadar getaran mesin, itu adalah sebuah frekuensi yang merayap masuk ke dalam sumsum tulang. Di dalam ruang analisis yang kini hanya diterangi oleh lampu darurat merah yang berkedip, Tri merasakan sensasi seolah-olah seluruh sel di tubuhnya sedang dipaksa untuk bergetar pada ritme yang sama. Sistem komputer di hadapan mereka membeku, menampilkan serangkaian simbol Sanskerta yang terus berputar-putar seperti pusaran air yang tak berujung."Sistem kendali utama terkunci total," teriak Dina sambil memukul meja kontrol yang tak lagi merespons. "Ini bukan serangan siber biasa. Mereka mengirimkan pulsa elektromagnetik melalui air yang disinkronkan dengan struktur baja kapal ini. Lambung kapal kita sekarang berfungsi sebagai antena raksasa untuk Raihan!"Adrian mencoba menghubungi anjungan melalui radio taktis di bahunya, namun yang terdengar hanyalah suara statis yang sesekali berubah menja
Udara di dalam ruang arsip digital terasa semakin menipis seiring dengan bertambahnya beban kebenaran yang baru saja terungkap. Tri masih berdiri terpaku, jemarinya perlahan menyentuh bahu kirinya sendiri, seolah bisa merasakan tanda lahir berbentuk bintang itu menembus kain pakaiannya. Pengakuan bahwa ia adalah darah daging Saraswati Harahap telah mengubah segalanya, ia bukan lagi seorang pengamat atau korban yang tak sengaja terseret, melainkan pusat dari lingkaran setan yang diciptakan oleh ambisi dua keluarga besar.Adrian duduk di kursi operator, wajahnya terkubur di balik kedua telapak tangannya. "Jika ayahku melakukan ini pada adiknya sendiri... lalu siapa aku di matamu sekarang, Tri? Apakah aku hanya anak dari seorang jagal yang sedang mencoba membasuh tangan yang berlumuran darah?"Tri tidak menjawab. Pikirannya sedang berkelana di dalam labirin data yang masih berkedip di layar monitor. "Berhentilah merasa bersalah untuk dosa yang tidak kau lakukan, Adria
Ruang analisis data di kapal induk Harapan Kita telah diubah menjadi sebuah ruang gelap yang dipenuhi oleh ribuan partikel cahaya mikroskopis. Teknologi proyeksi holistik milik yayasan menciptakan pemandangan yang fantastis.Struktur molekul Varian 4-B melayang-layang di udara, sebesar bola basket, dengan untaian DNA yang berpendar ungu seperti rasi bintang yang terjebak di dalam ruangan. Di tengah pusaran cahaya ini, Tri berdiri tanpa alas kaki, kedua tangannya bergerak di udara seolah-olah sedang menenun benang-benang cahaya yang tidak terlihat.Adrian berdiri di tepi ruangan, menyaksikan pemandangan itu dengan napas tertahan. Ia melihat Tri bukan lagi sebagai seorang dokter, melainkan sebagai seorang dirigen yang sedang memimpin orkestra genetika. Setiap gerakan tangan Tri mengubah susunan data spektral yang diekstraksi dari drive Arka-V. Rambutnya yang masih sedikit lembap berkilauan tertimpa cahaya ungu, dan matanya memancarkan fokus yang begitu tajam hingga t







