Liora tidak salah lihat.Lelaki itu memang Niro. Barista dengan senyum yang dulu pernah membuatnya menunggu terlalu lama di sebuah kafe kecil, hanya demi satu sapaan singkat.Nada bicaranya, cara bahunya sedikit condong saat tertawa, bahkan gaya senyum lebarnya yang memperlihatkan deretan gigi putih itu. Semuanya terlalu akrab untuk disangkal.Liora terdiam.Ia tidak pernah membayangkan akan bertemu Niro di sini. Di rumah ini. Di tengah keluarga Kairan.“Oma!”Niro memeluk Oma dengan hangat, tubuhnya sedikit membungkuk agar sejajar. Seperti biasa, gombalan mengalir begitu saja dari mulutnya. Ringan, percaya diri, tanpa kesan dibuat-buat.“Oma pakai perawatan apa, sih? Kok makin cantik saja. Jangan begini, nanti yang muda-muda bisa minder semua.”Pukulan ringan mendarat di bahunya, dibalas tawa renyah.“Dasar kamu. Mulutnya itu, ya. Enggak ada berubahnya,” kata Oma, meski senyumnya tak bisa disembunyikan.“Aku eman
Read more