“Kau tahu, Aruna,” suara Arden terdengar dari balik pintu yang baru saja terbuka, “kalau aku datang jam segini ke ‘penjara sutramu’, itu artinya Dewan sudah mulai bergerak lebih cepat dari dugaanku.”Aruna menoleh dari sofa, jepit rambut masih di tangannya.“Oh, bagus. Jadi aku tidak membongkar jam alarm itu dengan sia-sia. Silakan masuk, Tuan Kaeswara. Tahanan politikmu siap menerima briefing tengah malam.”Arden tidak menanggapi sindiran itu. Ia masuk perlahan, menutup pintu, lalu berdiri mematung sejenak... seperti pria yang sedang memilih kata paling menyakitkan untuk diucapkan.“Besok,” katanya akhirnya, “nama Layla akan disebut di Dewan.”Aruna menegang.“Sebagai korban?”“Atau sebagai senjata?”“Sebagai mayat,” jawab Arden datar.Hening jatuh. Kali ini Aruna tidak bercanda.“Kau bilang padaku Layla adalah saksi hidup,” ujar Aruna pelan. “Bukan simbol.”“Dia hidup,” Arden menatap Aruna, matanya merah lelah. “Tapi dunia percaya dia sudah mati. Dan akulah yang memastikan itu.”Aru
Last Updated : 2025-12-18 Read more