Masuk“Kamu meninggalkanku setelah menggodaku.” Zhen Ming mengeluh setibanya didapur dini hari. Dengan cemberut ia tumpukan dagunya ke puncak kepala Qiqi. Wanita itu sedang sibuk memotongi kue buatannya untuk anak-anak. “Saya? Siapa yang menggoda siapa? Haruskah saya mencarikan anda cermin, Yang Mulia?” “Nyonya, bicaramu menyakitiku.” “Kamu juga sama saja di masa lalu.” Lalu Zhen Ming mengunci rapat bibirnya, kalah telak mengadu argumen bersama gadis kecil ini. Mau sekarang atau masa lampau, kefasihan Qiqi belum berubah. “Baiklah, aku salah.” “Baguslah karena anda tahu anda salah.” “Jadi kapan kamu akan memaafkanku seutuhnya?” “Entahlah, mengapa anda terus memaksa saya? Bukannya anda bilang bersedia menunggu? Atau ... ucapan anda sebelumnya ternyata rayuan belaka?” “Mustahil!” “Kalau mustahil sesuai pengakuan anda, jangan ganggu saya pagi-pagi begini.” Ia berbalik, memutar tubuh ramping yang terbalut hanfu biru cerah. Rambut panjangnya dikepang menyamping ke samping oleh Xia
“Siapa yang kamu bunuh hari ini?” “Aku—” “Jangan bertele-tele, Yang Mulia.” Mata almondnya menyipit marah. “Terlibat pertarungan bisa membahayakan anak-anak,” imbuhnya. Perasaan senang Zhen Ming karena merasa dikhawatirkan seketika musnah dihantam kalimat terakhir Mei Anqi. Lucu, apa yang ia harapkan? Bermimpi wanita ini akan takut kehilangannya? Sebaliknya, justru Zhen Ming yang sering dihantui rasa takut ditinggal pergi wanita kecil ini untuk kedua kali. “Suku bar-bar Xiong Nu berulah. Gubernur memanggilku atas perintah Kaisar, Ayahanda ingin aku memeriksa bagian perbatasan barat Kota Xiyu.” “Bukankah suku bar-bar sudah berhasil dimusnahkan?” “Ada dua suku bar-bar yang mengganggu benua ini selama ratusan tahun, pertama Suku Luoyan yang sudah aku basmi. Kedua, itu suku Xiong Nu, mereka selalu tenang dan lebih cerdas. Tapi akhir-akhir ini ada pergerakan mencurigakan yang menggeser batas perbatasan.” Kehidupan damai mereka baru saja dimulai dan percikan api peperanga
Dua bulan terlewati dalam sekejap mata dan waktu memanen ladang pun tiba. Mei Anqi sudah bersiap sejak pagi bersama anak-anak. “Ibu, di mana Ayah?” Jiali memeluk leher ramping Anqi dengan nyaman. “Jiali belum melihat Ayah setelah bangun tidur.” “Ayahmu pamit pergi karena ada urusan, mungkin baru pulang sore. Kenapa? Sudah merindukannya?” Jiali melengos kesal sebab Zhen Ming tidak berpamitan dulu padanya sebelum pergi. Hongyi masih mengantuk ketika terpaksa mengikuti Ibu dan saudaranya menaiki gerobak sapi. Pergi menuju ladang yang telah mereka rawat dua bulan lebih. Kali ini Nenek Chu dan Bibi Chen ikut pergi ke ladang. Sehingga di rumah tersisa Xiao Bai dan Xiao Yun sebagai penjaga. Li San mengenderai gerobak sapi di depan, sesekali bertukar pengetahuan dengan Daisen mengenai ilmu kemiliteran. Selang sepuluh menit mereka tiba di ladang. Wanita di desa berbondong-bondong pergi ke sana untuk melihat hasil panen— apakah sesuai dugaan Nyonya Shen bahwa hama takut pada
“Zhen Ming, percaya atau tidak aku akan membakar Mansionmu jika kau menolak pulang sekarang!” Zhen Ming tetap terlihat santai meskipun diomeli dan disumpah serapahi oleh Raja Fei— kakak laki-lakinya, Zhen Xuan. “Berisik, bukankah kita sudah sepakat? Aku memberimu uang dan sebagai imbalannya, kau bekerja untukku.” Selama Zhen Ming, Gao Yan, Li San, dan Bibi Chen pergi, urusan Mansion Yan dipegang oleh Raja Fei dan Cai Lun. Tentu saja dengan imbalan gaji fantastis. Zhen Ming bukan boss kejam yang pelit. Ia menawarkan harga tinggi untuk membeli jasa Raja Fei dan Cai Lun. Seandainya Gao Yan tinggal di Mansion Yan, mungkin Raja Fei dan Cai Lun tak lagi diperlukan. Tetapi mengingat Desa Xinlong berada di wilayah perbatasan, keahlian Gao Yan dan Li San sangat diperlukan sementara untuk menjaga rumah. “Aku kembalikan semua uangmu, sekarang pulang bersamaku! Sebenarnya wanita macam apa yang bisa membuatmu bodoh seperti ini, hah!?” “Mei Anqi, siapa lagi?” Zhen Xuan tercengan
“Ayah! Ayo, Ayah!” Jiali melambaikan tangannya dari gerobak sapi yang Gao Yan pinjam dari Kepala Desa. Sebenarnya mereka punya kereta kuda pribadi, tetapi Zhen Ming meninta Gao Yan mencarikan gerobak sapi agar anak-anak bisa merasakan nuansa baru. Mei Anqi datang menyusul mengenakan hanfu sederhana polos berwarna coklat. Ia sengaja memilih warna gelap karena bekerja diladang rawan kotor. Beberapa warga desa menyapa sopan melihat keluarga kecil yang baru pindah ke Desa Xinlong itu. Mei Anqi membalas semua sapaan dengan ramah. Lalu naik ke gerobak sapi, bergabung menemani anak-anak di susul Zhen Ming. Gao Yan dan Li San duduk dikemudi depan. Zhen Ming memangku Jiali, ia terkejut melihat anak itu menyapa nama setiap anak tetangga yang mereka lewati. “Kamu menghafal nama dan wajah mereka secepat itu?” Jiali berkedip polos, mata bulatnya bersinar bingung. “Memang kenapa, Ayah? Ingatakanku memang bagus, tahu! Ibu selalu memujiku!” Tatapan terkejut Zhen Ming berikan pada Mei
“Aku bercanda, tenanglah,” kata Zhen Ming seraya terkekeh ringan. Mei Anqi membuang muka, menolak menerima fakta bahwa pria itu sedang bercanda. Leluconnya tidak lucu sama sekali! “Marah?” Mei Anqi bergeming. “Maafkan aku,” Zhen Ming mengalah dengan patuh. Memuaskan sifat keras kepala wanita kecilnya. Kesigapan Zhen Ming dalam mengalah berhasil meredakan amarah menggebu Qiqi. “Lain kali jangan diulangi. Saya bisa memaafkan tindakan lancang anda hari ini. Tetapi tidak dilain hari.” “Baiklah, aku mematuhi perintah ’nyonya’. Apapun yang kamu katakan selalu benar.” Panggilan ‘nyonya’ mengejutkan Anqi. Bukan hanya dia, Li San yang masih terjaga dan duduk di atap kamar Anqi ikut tertegun. Dengan memanggil Nona Mei sebagai ‘nyonya’ menyiratkan kesediaan Zhen Ming menyerahkan posisi pengelola utama Mansion Yan. Selain itu, panggilan ‘nyonya’ dari seorang suami kepada sang istri membuktikan betapa pria itu menghormati dan patuh ke pihak wanita. Pria bangsawan dari tingk







