“Wah, dari mana kamu dapat uang sebanyak ini?” Hongyi menghampiri adiknya yang duduk di ranjang menghitungi uang, ia ikut naik. Mulutnya ternganga lebar memandang tumpukan koin emas di ranjang. “Kamu mencuri, ya?” terka Hongyi menuduh. “Aku laporkan kamu pada Ibu!” “Eh!” Jiali memukul wajah saudara keduanya sampai memerah diikuti lenguhan sakit sang empu. Ia berkacak pinggang marah, ”Kakak pikir aku ini preman pasar!?” “Ya, siapa tahu?” Sembari membelai hidung merahnya Hongyi menimpali sengit. Lelaki kecil itu ikut kesal setelah asetnya ditimpuk. “Berapa kali aku bilang padamu, jangan pukul wajahku!” “Kakak menyebalkan, salahmu sendiri menganggu aku!” Diakhiri dengusan keras yang sengaja Jiali berikan tepat ke wajah merah Hongyi. Lantas Hongyi menarik rambut kepang Jiali sesaat sebelum melarikan diri dan kabur terbirit-birit meninggalkan kamar. “Kakak!” teriak Jiali merasa teraniaya, kulit kepalanya mati rasa setelah kepangnya ditarik kencang. Mata almondnya memerah ter
Read More