Keheningan yang menyelimuti kamar utama mansion Dirgantara pagi itu terasa begitu tebal, seolah-olah waktu sengaja melambat untuk memberikan penghormatan pada sebuah penyatuan yang bukan lagi didasari oleh paksaan kontrak. Setelah keintiman yang lembut di awal, atmosfer di antara Arka dan Lia berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih sakral dan emosional. Arka menatap Lia yang berbaring di bawahnya dengan tatapan yang belum pernah Lia lihat sebelumnya—sebuah kombinasi antara pemujaan yang dalam, rasa bersalah yang telah dimaafkan, dan cinta yang meledak-ledak. Pria yang biasanya hanya mengenal penaklukan itu kini tampak seperti seorang abdi yang sedang menghadap dewinya.Arka tidak segera melanjutkan gerakan fisiknya. Ia justru menarik napas panjang, membiarkan jemarinya gemetar saat mengusap rahang Lia. Ia menundukkan kepalanya, menyentuhkan dahinya ke dahi Lia, membiarkan napas mereka bercampur dalam satu irama yang sama. "Lia ...," bisiknya, suara itu serak, membawa beban emosi yan
Read more