Santi buru-buru turun menggunakan lift. Dia bahkan meninggalkan belanjaan tadi saking takutnya Bimo ngapa-ngapain dia lebih jauh. Santi kaget mendubruk orang lagi karena dia jalan tanpa melihat. “San, kamu nggak apa-apa, sayang?” suara yang dikenal Santi membuatnya benar-benar lega. “Ri-Riki, kamu disini?” kaget sekaligus senang kalau ada Riki. Santi memeluknya tanpa ragu. “Iya, aku sengaja jemput kamu. Aku takut kamu diapa-apain. Kamu ga apa-apa kan?” Santi menggeleng, namun dia sangat senang dengan kedatangan Riki. “Aku ga apa-apa Rik, tapi,” Santi malu dan menarik telinga Riki, “Celana dalam aku udah becek banget sayang,” Riki melotot juga karena merasa was-was. Dia merasa kecurigaannya tadi terbukti. “Kamu beneran ga diapa-apain?” Riki tetap penasaran dan sekaligus merasa gelisah. “En-nggak sayang, aku keterima kerja, tapi tadi testnya bikin aku deg deg serr pengen. Untung udah ada kamu. Yuk pulang, aku pengen di ilat dan di isap sama kamu, Rik. Aku lagi pingin nih!” ucapny
Read more