Mereka kini berada di sebuah ruang gudang kecil yang berfungsi ganda sebagai kantor. Udara terasa pengap, berbau campuran kopi, kardus, dan pembersih lantai. Sebuah meja kecil penuh dengan dokumen pengiriman dan laptop tertutup menjadi satu-satunya perabot.Wanita itu berbalik, mantel panjangnya berkibar. Tatapannya sekarang lebih terbuka, namun bukan dengan keramahan—melainkan dengan sebuah ketegangan yang dipaksakan.“Jadi, kamu yang mereka kirim,” ujarnya, suaranya lebih rendah, waspada. “Apa yang kamu inginkan dariku? Semua sudah kusiapkan sesuai instruksi kalian selama ini.”Beni terpana. “Apa dia mengira aku salah satu dari mereka.” Jantung Beni berdegup kencang, bukan lagi karena takut, tapi karena kebingungan yang mendalam. Organisasi ini ternyata tidak hanya bermain dengannya, tetapi juga dengan orang-orang seperti wanita ini.“Dengar,” kata Beni, berusaha menjaga suaranya tetap stabil sambil otaknya berputar cepat. “Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya mendapat kartu ini, dan p
Last Updated : 2025-12-27 Read more