Beni membuka pintu. Pak Bimo berdiri di sana. Sosoknya seperti biasa—rapi dengan kemeja lengan panjang, celana kain, dan sorot mata yang tenang namun bisa mengupas. Tas kulit kesayangannya menggantung di pundak. Matanya yang tajam menyapu cepat wajah Beni, lalu masuk ke dalam ruangan, menangkap keberadaan Nadia dan Lintang yang kini sudah berpakaian dengan sopan. “Maaf saya datang mendadak,” ucap Pak Bimo, suaranya halus tapi punya berat. Senyum tipisnya tidak mencapai matanya. “Ada perkembangan yang perlu didiskusikan. Tapi, kok... ruangan terasa agak panas?” Pertanyaan itu biasa saja, namun terasa seperti sebuah interogasi. “Eh, iya, Pak. Baru saja mati listrik,” jawab Beni dengan cepat. “Silakan masuk.” Pak Bimo melangkah masuk, mengangguk pada Nadia. “Nadia. Kebetulan sekali kau ada di sini.” “Aku... kebetulan mau mengantar makanan untuk Beni, Pak,” ujar Nadia tiba-tiba, suaranya datar namun terdengar meyakinkan. Dia berbalik, menghadap Pak Bimo sepenuhnya. “Ada apa, Pak
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-02-01 อ่านเพิ่มเติม