Beranda / Romansa / Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu / Kebohongan yang Menyakitkan

Share

Kebohongan yang Menyakitkan

Penulis: Aqilazahra
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-31 15:02:21

“Tinggalkan aku sendiri. Dan tolong … rahasiakan semua ini. Jangan sampai ada yang tahu!” perintah Revan, tak ingin dibantah.

Fahri hanya sempat mengangguk sebelum akhirnya melangkah mundur, meninggalkannya bersama sisa-sisa kepercayaan yang hancur.

Revan melangkah ke ruang kerjanya dengan seluruh sisa tenaga yang ia punya. Di ruang kerjanya, ia melepaskan semua kesakitan yang selama ini ia tahan.

“ARGHHHHH!”

Teriakannya memantul di dinding, seperti jiwa yang sedang retak.

Sebuah bingkai foto ia lempar, Foto Revan bersama Dita dan Reino pecah berhamburan di lantai, serpihannya seperti menggambarkan hidupnya yang ikut hancur.

“Kenapa, Dita?! Kenapa kau membohongiku?!”

Ia meraih meja dan kembali melempar semua yang ada di sana, napasnya terengah, hampir tak menemukan oksigen untuk bertahan.

Suara kaca pecah itu membuat Bi Inah terlonjak. Dengan panik, ia bergegas ke lantai atas menuju kamar Irisha.

“Non Risha … Non?” panggilnya, suara gemetar.

Irisha, yang tengah men
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Sebuah Rencana besar

    Setibanya di kamar, Irisha mengepalkan tangannya erat. Dadanya naik turun menahan gejolak emosi yang bergemuruh. “Nyonya Dita … belum saatnya kau hancur,” bisiknya penuh dendam. “Tunggulah. Pembalasanku akan datang, dan aku akan membuat hidupmu hancur, sehancur-hancurnya.” Pintu kamar mandi terbuka. Revan yang baru saja selesai menatap wajah istrinya dengan sorot khawatir. “Kau menangis?” tanyanya pelan. Irisha segera menghapus sisa air mata di pipinya, lalu memaksakan senyum. “Tidak,” jawabnya cepat. “Ini … tangisan bahagia.” Revan menatapnya lekat, seakan ingin menembus kebohongan itu. “Kau yakin?” tanyanya lagi. Irisha mengangguk pelan, meski suaranya sedikit bergetar. “Ya … yakin.” Revan menariknya ke dalam pelukan hangat, lalu mengecup kening istrinya dengan lembut. “Apa mereka mengganggumu lagi?” tanyanya penuh perhatian. Irisha menggeleng ringan, senyum kecil tersungging di bibirnya. “Tidak. Justru aku yang mengganggu mereka.” Revan terkekeh kecil, men

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Pembunuh!

    “Ouhh … Om, jangan keras-keras, sakit tahu!” Mata Reino membulat. Dadanya seolah diremas. Ia terpaku, tak percaya pada apa yang ia dengar dari balik telepon. “Irisha, papahku di mana?” tanyanya ketus, amarah mulai merayap di suaranya. “Siapa?” sahut Irisha ringan. “Maaf, nggak kedengeran. Aku lagi sibuk.” “Irisha!” Reino meninggikan suara. “Halo, kau dengar aku, kan?” “Ya, Rei … ada apa?” jawabnya seolah santai. “Halo, Rei … sinyalnya jelek. Ahhh ….” Desahan terakhir itu menjadi penutup panggilan. Telepon terputus, disusul tawa kecil Irisha yang terdengar puas. Reino menurunkan ponselnya perlahan, lalu menghantamkan tinjunya ke dinding. Kulit tangannya memerah, namun rasa sakit itu tak sebanding dengan amarah yang mendidih di dadanya. “Sialan!” bentaknya. “Kau benar-benar pelacur, Risha!” Dita yang mendengar teriakan itu segera mendekat, wajahnya dipenuhi kecemasan. “Rei, bagaimana?” tanyanya cepat. “Apa Revan sudah menjawab?” Reino menggeleng keras. “Belum, Mah.

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Kejutan Kecil

    Keesokan paginya, Irisha menggandeng Revan menuju sebuah studio foto ternama. Begitu tiba, matanya langsung menyapu ruangan, lalu jarinya menunjuk salah satu pelayan butik yang berdiri tak jauh dari sana. “Tolong bantu suami saya ganti pakaian,” pintanya singkat. Sementara itu, Irisha melangkah menuju ruangan lain. Senyum tipis terukir di bibirnya ada sesuatu yang sedang ia siapkan, sebuah kejutan yang hanya ia sendiri tahu. Revan kini berdiri di depan cermin besar. Tubuhnya terbalut jas rapi, lengkap dengan bunga kecil yang terselip di saku dada. Ia memandangi bayangannya sendiri cukup lama, seolah belum benar-benar percaya dengan apa yang dilihatnya. “Memang harus seperti ini?” tanyanya akhirnya, nada suaranya terdengar ragu. “Apa aku tidak terlihat … aneh dan berlebihan?” Pelayan butik itu tersenyum ramah. “Tenang saja, Pak. Anda terlihat sangat pantas. Percaya atau tidak, Bapak justru tampak jauh lebih muda.” Namun, kegugupan tetap terpancar jelas dari wajah Revan. Ia

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Aku mencintaimu

    Ada keraguan samar di mata Revan. Bagaimana bisa ia percaya pada wanita yang dulu justru ingin melihatnya hancur? Pertanyaan itu menggantung di udara, tapi Irisha lebih dulu menjawab tanpa ditanya. Ia mengangkat wajah Revan, kedua tangannya menahan dengan lembut. “Percayalah padaku, Om … aku tidak akan pernah mengkhianati kamu.” Butiran sisa air mata masih bertahan di sudut mata Revan. Ia mengangguk pelan. Pasrah atau mungkin mulai percaya. Irisha tersenyum kecil. “Nah, begitu. Ini baru suamiku. Tegas. Dingin. Bukan pecundang yang larut dalam penyesalan.” Sudut bibir Revan terangkat samar. Untuk pertama kalinya, hatinya terasa sedikit ringan. Irisha pun beranjak, mengambil kotak obat. “Sini. Aku obati dulu.” Belum sempat Revan bersiap, Irisha menyentuh lukanya dengan cairan antiseptik. “A-aduuh!” desis Revan, menahan nyeri. “Tahan,” kata Irisha tanpa merasa bersalah sama sekali. “Sebentar lagi juga selesai. Kau dokter, kan? Kalau kau obati pasien pasti kau tahu rasan

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Kebohongan yang Menyakitkan

    “Tinggalkan aku sendiri. Dan tolong … rahasiakan semua ini. Jangan sampai ada yang tahu!” perintah Revan, tak ingin dibantah. Fahri hanya sempat mengangguk sebelum akhirnya melangkah mundur, meninggalkannya bersama sisa-sisa kepercayaan yang hancur. Revan melangkah ke ruang kerjanya dengan seluruh sisa tenaga yang ia punya. Di ruang kerjanya, ia melepaskan semua kesakitan yang selama ini ia tahan. “ARGHHHHH!” Teriakannya memantul di dinding, seperti jiwa yang sedang retak. Sebuah bingkai foto ia lempar, Foto Revan bersama Dita dan Reino pecah berhamburan di lantai, serpihannya seperti menggambarkan hidupnya yang ikut hancur. “Kenapa, Dita?! Kenapa kau membohongiku?!” Ia meraih meja dan kembali melempar semua yang ada di sana, napasnya terengah, hampir tak menemukan oksigen untuk bertahan. Suara kaca pecah itu membuat Bi Inah terlonjak. Dengan panik, ia bergegas ke lantai atas menuju kamar Irisha. “Non Risha … Non?” panggilnya, suara gemetar. Irisha, yang tengah men

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Kenapa?

    “Dede bayi?” bisiknya lirih, “malam ini kita pasti dapat pelukan dari Papah. Ayo, kita siap-siap dulu.” Selesai mandi, Revan tak langsung menemui Irisha, ia memilih duduk di sofa. Tangannya meraih laptop, berusaha larut dalam pekerjaan, atau justru bersembunyi dari Irisha. “Om?” panggil Irisha pelan, mendekat. Tak ada jawaban. Irisha mendesah dramatis. “Dosa loh nyuekin istri …” Revan menutup laptop setengah, lalu menatapnya. Tatapan tajam, dingin, tapi lelah seolah ia tidak lagi punya tenaga untuk marah, tapi juga belum siap untuk berdebat. “Maumu apa?” tanyanya tegas, datar, tanpa nada membujuk. Irisha duduk di pangkuannya begitu saja, mengalungkan tangan di leher Revan. Napasnya terasa di kulitnya, membuat Revan menegang. “Maunya, dipeluk Om …,” bisiknya menggoda, bibirnya menyentuh bibir Revan sekilas cukup singkat untuk disebut ciuman, cukup lama untuk disebut tantangan. Revan memejamkan mata sejenak, menahan diri. Ia tahu apa yang Irisha lakukan. Ia tahu Irisha

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status