“Jadi, Brian,” suara Marissa, wanita paruh baya dengan berlian sebesar kelereng di lehernya, memecah keheningan di sela hidangan utama.Nadanya terdengar manis, namun matanya memancarkan racun. “Kudengar sepupumu, Aldi, baru saja mengonfirmasi kehamilan istrinya yang kedua. Luar biasa, bukan? Padahal mereka baru menikah setahun.”Tampak rahang Brian yang mengeras, namun dia masih diam, berusaha menjaga sopan santun.“Ya,” lanjut Tante Marissa, kali ini matanya beralih menatap Jane dengan tatapan merendahkan yang tak ditutup-tutupi.“Sayang sekali pewaris utama kita justru yang paling lambat. Jane, Sayang, apa kau sudah mencoba dokter yang kurekomendasikan di Singapura? Atau mungkin ... masalahnya bukan pada dokternya, tapi pada ‘lahan’-nya yang tandus?”Beberapa sepupu perempuan tertawa kecil sambil menutup mulut mereka dengan serbet. Tawa itu terdengar seperti sayatan pisau di hati Jane.Wajah Jane yang semula hanya tegang, kini berubah pucat pasi. Darah seolah surut dari wajah canti
Terakhir Diperbarui : 2026-01-28 Baca selengkapnya