"Tapi apa?" desak Glen, kesabarannya mulai menipis. Tatapannya berubah tajam, terhalang kabut nafsu.Meya menelan ludah. Jantungnya berdebar kencang, namun ia tahu tak bisa lagi menghindar dan harus tetap mengatakannya."Aku nggak bisa, Mas. Barusan aku datang bulan."Glen seketika terdiam. Matanya mengerjap kaget, memproses kata-kata itu, sebelum akhirnya menghela napas panjang. Satu tangan menepuk jidatnya.‘Astaga. Bisa-bisanya aku maksa perempuan yang lagi datang bulan,’ batinnya merutuki diri sendiri akan perbuatan bodohnya.Glen perlahan bangkit dan duduk di tepi ranjang, punggungnya membelakangi Meya. Bahunya naik turun dalam tarikan napas yang berusaha dikendalikan.Tak bisa dipungkiri, raut Glen tampak kecewa. Bukan pada Meya, tetapi pada situasi yang tak bisa memuaskan hasratnya yang telah berkobar."Maaf, Meya. Kalau gitu kamu tidur aja di sini, ya. Aku mau nenangin diri dulu," ucap Glen, suaranya serak. Ia turun dari tempat tidur.Namun saat hendak melangkah menjauh, Meya l
Read more