“Aku masih belum mau maafin kamu,” ucap Meyra, lebih jelas dan tegas kali ini.Rahang Evan sedikit menegang. Dia melangkah mundur, melepaskan pelukannya.“Terus mau kamu apa, hm? Apa lagi yang harus aku beli buat kamu?” tanya Evan, dengan nada yang sedikit dinaikkan, campuran frustrasi dan kelelahan.Meyra menaruh pisau dapur di tangannya, merasa ingin sekali menggunakan benda tajam itu. Namun akhirnya, dia berbalik menatap Evan.Langkahnya kian mendekat. Satu tangan Meyra perlahan naik, mengusap sisi wajah Evan yang kaku dan menegang. Sentuhannya lembut, namun penuh dengan arti yang tak bisa ditebak.Senyuman manis merekah di bibir Meyra. Dia berbisik lembut di telinga Evan. “Malam ini kita, bisa kan? Atau mau honeymoon aja sekalian?”Mendengar hal itu, seketika Evan menegang seperti patung. Jakunnya naik turun menelan ludah dalam kepanikan. Dia teringat dengan jelas pada larangan tegas Erina untuk tidak menyentuh Meyra sama sekali.Namun di sisi lain, posisi jabatan Evan dipertaruhka
Read more