Di ujung telepon, Anara melihat Aldrian mengakhiri panggilan dan buru-buru bertanya, "Ada apa?""Nggak apa-apa, Bi Sani bilang mau berhenti kerja," jawab Aldrian sambil menyimpan ponselnya.Anara menghela napas lega. Namun, memangnya kenapa meskipun pembantu itu mengatakan yang sebenarnya? Dia berani melakukannya karena tidak takut. Di depan Aldrian, bahkan Kyna juga tidak bisa dibandingkan dengannya, apalagi seorang pembantu. Lagi pula, dia sudah hampir membunuh Kyna, tetapi Aldrian masih membelanya.Memikirkan hal ini, Anara pun tersenyum berseri-seri. Pada saat yang sama, dia mengeluarkan gaun Kyna yang berkilau itu."Wow, gaun ini cakep banget! Apa ini untukku?" serunya dengan takjub."Itu ...." Aldrian meliriknya dan menjawab, "Itu milik Kyna.""Kyna ...." Anara segera memutar otak dan berujar, "Aldri, kebetulan ada sebuah acara amal yang harus kuhadiri sebentar lagi. William dan Naldo akan bawa aku pergi. Nggak ada gaun yang bisa kupakai. Boleh nggak aku pinjam yang ini?" Aldria
Baca selengkapnya