Refleks Diana terpekik, “Ah, ya, ampun, Mas!”Sadar, ia langsung menutup mulutnya rapat-rapat, dan menyembunyikan ponsel di dalam blusnya. Apalagi pekikannya sudah mengundang perhatian Rina yang kini menatap penuh selidik ke arahnya.“Ada apa, Diana? Kamu bilang ‘Mas’, maksudnya Rayan? Dia kenapa?” celoteh Rina sambil mendekat.“Nggak. Bu–bukan Mas Rayan. Itu … Bu, mas–masakan … resep, aneh. Makanya aku kaget.” Diana mencoba tertawa, berharap Rina percaya. “Yaudah, Bu, aku berangkat dulu.”Tergesa-gesa ia mencium tangan Rina, dan berlari keluar. Tujuan utamanya bukan ke butik, melainkan mencari sosok Dhava. Pria itu tadi mengirimkan pesan mengejutkan. Diana membuka ponselnya lagi membaca teks dan gambar dari terapisnya.[Aku menunggumu di sini.]Jantung Diana serasa berhenti berdetak saat melihat lampiran foto di bawah teks itu. Yang menunjukkan Dhava sedang berada dalam mobil, dan Mercedes Benz hitam itu terparkir tepat di seberang jalan rumah Diana. Senyum Dhava dalam foto ter
Última atualização : 2025-12-03 Ler mais