“Kamu,” tunjuk Rayan ke depan, matanya melebar dan wajarnya mengeras.Diana langsung tersentak di balik kepala orang lain, detik itu juga ia menyelinap ke balik punggung Dhava, menempelkan tubuhnya hingga tak berjarak.“Baby,” lirih Dhava. Dalam genggaman tangannya pun Diana berkeringat .“Geser, dong. Aku mau masuk! Aku juga tamu hotel, berhak pakai lift,” sembur Rayan pada pengguna lift lainnya. Diam-diam Diana mengintip dari balik punggung Dhava, ternyata sang suami menatap ke arah pengunjung lain. Namun, napasnya, tidak langsung lega.Mereka semua saling menggeser memberi ruang sempit untuk Rayan. Lift ini cukup penuh, bahkan seorang ibu yang di depan Dhava sampai harus menggendong anaknya. Ini membuat pria itu yang berdiri paling pojok terhalang. Entah Rayan sempat melihatnya atau tidak.Rayan melangkah masuk, tubuhnya tepat di depan pintu. Lift bergerak naik ke atas.Dhava berusaha berdiri tegak, agar tidak menjepit Diana di belakangnya. “Aku … takut, Mas. Gimana kalau—” cici
Última atualização : 2025-12-10 Ler mais