“Kamu serius mau terima dia, Nak?” bisik Denver, sesaat usai Dhava masuk toilet. Seolah takut ketahuan, pria paruh baya ini juga melirik ke pintu toilet yang tertutup rapat. Namun, putrinya ini tak juga menjawab, membuat Denver sampai harus mengulang pertanyaannya, “Diana, kamu serius? Masalah materi, kita mampu, soal identitas juga anak itu Papa masukkan dalam keluarga kita.”Diana masih mengelus-elus perutnya, dan satu tangannya meremas ujung rambut. Ia menunduk sedikit, kala tendangan si kembar seperti bisa merasakan gejolak perasaannya melalui aliran darah.“Pa, aku tahu kita bisa membesarkannya tanpa Mas Dhava, tapi … anak ini nantinya tidak punya Papa,” lirih Diana, ia mengambil napas sejenak. Lalu ia melanjutkan, “Awalnya aku berpikir seperti itu, Pa. Tapi … anak ini juga berhak dapat kasih sayang dan tumbuh bersama papanya.”Mendengar pernyataan itu, Denver masih berat hati, tetapi Dewi yang duduk tak jauh dari Diana langsung mengangguk. Sebagai seorang wanita dan juga ibu, ia
Last Updated : 2026-02-17 Read more