“Semoga Davka nggak jenuh,” gumam Diana, sambil menggulung-gulung rambutnya terus. “Maaf. Aunty lupa, harusnya langsung antar ke rumah kamu.”Tangan satunya lagi mencengkeram kantung biru muda makin erat. Pahanya bergerak-gerak seiring dengan debar jantung yang makin gila seiring laju taksi tambah cepat.“Apa nggak bisa lebih cepat, Pak? Anak saya ….” Diana menyentuh bibirnya sendiri, sadar apa yang barusan ia katakan.Sebelum ia bekata lagi, sopir berkomentar, “Ini sudah paling cepat, Bu. Saya juga memetingkan keselamatan.”Diana menghela napas, memang benar apa yang sopir itu ucapakan. Ia benar-benar berlebihan karena takut mood Davka rusak, dan gagal menikmati outbound.**Sementara di sisi lain, Dhava masih berdiri tegak. Tanpa menoleh pada Riri, ia memerintah, “Bawa Davka bergabung dengan teman-temannya!”“Baik, Pak.” Riri mengangguk, berusaha melepas pelukan tangan mungil itu dari kaki ayahnya. “Sama Sus Riri, yuk.”Alih-alih tenang, bocah itu malah makin merengek, “Mau sama mam
Last Updated : 2025-12-27 Read more