“Apaan, sih, Dhav? Bisa lepas nggak? Aku ini istri kamu, bukan penjahat!” raung Renita. Matanya melotot penuh kilat, dan embusan napasnya kasar.Begitu pintu tertutup Dhava mengempaskan tangan istrinya. Ingin sekali ia mendorong wanita itu ke atas ranjang besar yang rapi dan dingin. Namun, naluri dan tanggung jawab mencegahnya bertindak gila.“Kenapa Dhav? Mau minta jatah?!” geram Renita, balik mendorong Dhava dengan kekuatan penuh. Namun pria itu bergeming, tetap kokoh di tempat.Dhava tersenyum pahit, dan ia menelan ludahnya yang kelat. Jakunnya bergerak cepat, dan tangannya mengepal kuat. Bukan karena panggilan primitf pria dalam diri, melainkan kobaran amarah pada wanita itu.“Aku nggak mau, ya, sampe hamil lagi! Pake kondom! Atau kamu vasektomi sekalian!” Renita mendecih sinis. Wanita itu bahkan membuang tatapan ke lain arah.Dhava maju selangkah demi selangkah. Tangannya yang terkepal barusan, menyentuh pipi sang istri, meskipun bergetar.“Tenang saja, Re. Kamu tidak perlu melay
Last Updated : 2025-12-23 Read more