“Lala, kamu capek ya,” kata Bu Nining lembut, hangat seperti biasanya. “Sedikit, Bu,” jawab Lala jujur. “Keliatannya juga muka kamu pucat. Oh ya, kamu makan ya. Tadi Sarah sudah masak,” lanjut Bu Nining perhatian. “Iya, Bu. Makasih,” kata Lala sambil tersenyum kecil. “Ibu istirahat dulu. Kamu juga ya, setelah makan,” ucap Bu Nining, lalu melangkah masuk ke kamarnya. Pintu tertutup pelan. Ruang tamu kembali sunyi. Aran masih memaku di depan pintu masuk, seolah jadi penjaga yang tak mau beranjak. Sarah tetap berdiri di sudut ruangan, posturnya tenang, wajahnya datar dengan senyum tipis yang tak pernah lepas. Dan Lala berdiri di tengah-tengah mereka. Ia menarik napas pelan, lalu menoleh ke arah Sarah dan tersenyum—senyum sopan, senyum aman. “Sar, aku ke kamar ya.” Sarah membalasnya dengan senyum yang sama seperti biasanya. Ramah. Tenang. Tak ada cela. “Iya. Istirahat saja,” katanya lembut. Lala mengangguk, lalu melangkah pergi. Namun saat punggung Lala menjauh,
Last Updated : 2026-01-29 Read more