Hening. Sunyi. Kini tinggal Lala dan Hani yang menatapnya dari sudut kamar. Seketika itu tubuh Lala terasa lemas, bahunya merosot. Napasnya tersengal, dada sesak. Semua kata-kata Sarah, setiap tuduhan, setiap ancaman, bergema di kepalanya, seperti palu yang memukul berulang-ulang. Ia menunduk, air mata mengalir tanpa bisa ditahan. Hatinya hancur, tapi bukan hanya karena kata-kata Sarah. Ia merasa bingung, tersudut, dan… sendirian. Rasa bersalah, takut, dan malu bercampur menjadi satu, membuatnya sulit bernapas. “Apakah aku memang pembawa sial?” gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar, hanya untuk dirinya sendiri. “Apakah benar aku hanya cadangan… seperti yang ia bilang?” Tubuhnya gemetar, dan ia duduk di tepi tempat tidur, memeluk lututnya. Gejolak hati Lala tidak hanya karena Sarah—tapi juga karena Aran, karena Oma, karena rahasia yang tidak bisa ia ungkapkan, dan karena seluruh hidupnya kini terasa seperti jurang yang menganga di depannya. Di kamar itu, hanya ada h
Last Updated : 2026-01-31 Read more