Keesokan paginya, rutinitas Zhiya berlanjut—namun kini setiap jam terasa memiliki bobotnya sendiri. Ia tiba di museum lebih awal dari biasanya. Ruang konservasi masih sunyi, hanya terdengar dengung pendingin udara dan langkah sepatunya di lantai marmer. Zhiya menyiapkan meja kerja: sarung tangan katun, lampu meja, kaca pembesar, dan naskah Qingzhou yang kemarin mereka teliti. Ia membuka halaman yang sama, menelusuri ulang catatan pinggir itu, seolah berharap menemukan kalimat yang semalam terlewat. Tidak ada yang berubah. Justru itulah yang mengganggunya. Arga datang membawa dua cangkir kopi. “Kau hampir tidak tidur,” katanya, bukan bertanya. Zhiya menerima cangkir itu, mengangguk. “Aku takut jika aku berhenti membaca, aku akan kehilangan jejaknya.” “Jejak siapa?” Arga menatapnya. Zhiya terdiam sejenak. “Jejak diriku sendiri.” Mereka bekerja berdampingan, menyusun ulang fragmen teks, mencocokkan istilah dengan peta kuno, dan menandai simbol yang berulang—air, bayangan,
Last Updated : 2026-01-22 Read more