Air kolam mulai mendingin perlahan. Zhiya menyadarinya lebih dulu—bukan dari suhu, melainkan dari cara Lingga menarik napas lebih panjang, seolah kembali mengingat siapa dirinya begitu uap menipis. Ia bangkit lebih dulu, air mengalir dari bahunya, menetes pelan ke permukaan kolam. Lingga mengikuti dengan pandangan, lalu berdiri di sisinya. Tak ada sentuhan tergesa. Hanya keheningan yang masih bertahan. Mereka mengenakan jubah tipis, berjalan berdampingan menyusuri lorong batu yang mengarah ke paviliun dalam. Langkah mereka bergema lembut, seperti istana yang sedang menahan napas. Di kejauhan, lonceng kecil berbunyi. Lingga berhenti. Zhiya ikut berhenti, menoleh. “Istana memanggilmu.” “Ya,” jawab Lingga lirih. “Pagi tidak akan membiarkan kita lama.” Ia menatap Zhiya—bukan dengan kecemasan, tapi dengan sesuatu yang lebih berat: kesiapan. “Para penilik langit telah menghitung ulang pergerakan bulan.” Zhiya menghela napas. “Bulan hitam.” “Belum naik,” kata Lingga, “tap
Last Updated : 2026-02-03 Read more