Fajar datan perlahan di Qingzhou. Cahaya pagi merembes masuk melalui celah tirai, menggantikan perak malam dengan semburat keemasan yang hangat. Burung-burung istana mulai bersuara pelan, seolah saling mengingatkan bahwa hari telah kembali berjalan. Zhiya terbangun lebih dulu. Untuk sesaat, ia bingung—lalu menyadari di mana ia berada. Aroma kayu cendana masih menggantung di udara, dan tangan Lingga masih menggenggamnya, longgar namun pasti, seakan tak pernah berniat melepaskan. Ia menoleh. Lingga masih tertidur, wajahnya tenang, jauh dari ketegangan seorang raja. Di saat itu, Zhiya melihatnya bukan sebagai penguasa Qingzhou, bukan sebagai roh terikat kutukan—melainkan seorang pria yang kelelahan oleh tanggung jawab dan waktu. Zhiya bergerak pelan, takut membangunkannya. Namun Lingga membuka mata, menatapnya dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat. “Kau masih di sini,” katanya pelan, seolah itu bukan kepastian, melainkan anugerah. “Aku belum pergi,” jawab Zhiya. Mer
Last Updated : 2026-01-01 Read more