Istana Shangzhou menyambut mereka dengan kemegahan yang berbeda dari Qingzhou—lebih keras, lebih terang, seolah ingin menegaskan kekuatan melalui kilau. Aula utama dipenuhi pilar tinggi berlapis emas pucat, lantainya licin seperti cermin, memantulkan langkah siapa pun yang masuk. Raja Shangzhou telah menunggu. Senyumnya lebar, hangat—terlalu hangat untuk sepenuhnya tulus. “Yang Mulia Lingga,” katanya sambil membuka tangan. “Qingzhou selalu membawa angin perubahan.” “Dan Shangzhou selalu tahu cara menangkapnya,” jawab Lingga dengan nada seimbang. Mereka duduk berhadap-hadapan. Di antara mereka, meja panjang dipenuhi gulungan perjanjian, cap kerajaan, dan cawan teh yang belum disentuh. Percakapan dimulai dengan basa-basi—panen, cuaca, keamanan jalur dagang—lalu perlahan menyempit pada inti. Ketika pembahasan harga besi memanas, seorang menteri Shangzhou tersenyum tipis. “Qingzhou diuntungkan oleh jalur laut kami. Ketergantungan itu wajar.” Zhiya yang sejak tadi diam, mengangka
Last Updated : 2026-01-06 Read more