Aroma kopi hangat memenuhi rumah ketika Naomi melangkah keluar dari kamar. Rambutnya masih sedikit berantakan, terurai tanpa usaha, daster tidurnya jatuh longgar mengikuti tubuh, tampilan pagi yang jujur dan apa adanya. Ia berhenti mendadak di ambang ruang makan.Kakaknya ada di sana. Duduk di kursi makan, satu tangan menggenggam cangkir kopi yang masih mengepul, sorot matanya terangkat perlahan, lalu membesar.“Nona?” suaranya naik setengah oktaf. “Sejak kapan kamu di sini?” tanyanya kemudian.Naomi menoleh, senyum kecil mengembang di bibirnya. “Pagi,” sapanya santai, seolah kehadirannya sama sekali bukan kejutan. “Aku datang semalam.”“Semalam?” Kakaknya menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki, curiga bercampur heran. “Jam berapa?”“Sudah lewat tengah malam,” jawab Naomi jujur. Ia melangkah ke dapur, meraih gelas, membuka kulkas, lalu menuang susu dengan gerakan tenang, seolah semua ini adalah rutinitas biasa.Kakaknya terdiam beber
Baca selengkapnya