Share

Istri Papa

Author: NaoMiura
last update publish date: 2026-01-31 20:00:16

Usai makan siang, mereka ke rumah papa. Suasana terasa lebih sunyi dari biasanya. Begitu pintu utama terbuka, aroma pengharum ruangan vanilla. Suara televisi dari ruang tengah memecah keheningan.

Khaza duduk dengan santai di sofa panjang, sebuah remot di satu tangan. Ia tampak sedang menonton sebuah drama, seolah hari ini hanyalah hari Sabtu biasa yang tenang.

Begitu menyadari kehadiran mereka, Khaza menekan tombol mute dan menoleh dengan senyum simpul yang amat tipis. Senyum ya

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bilur Bulir Bertaut   Selera yang Sama

    Suasana kantor berjalan seperti biasa. Cepat, rapi, dan penuh suara notifikasi yang datang bergantian. Naomi baru saja meregangkan badannya setelah fokus pada pekerjaan. Pandangannya tanpa sadar bergeser ke arah ruangan kecil di sudut area kerja mereka. Ruangan Mareeq.Pintunya tertutup. Naomi sudah tahu tidak akan ada orang di dalamnya. Kemarin dia mengatakan Freya dan Raya akan kembali ke Turki hari ini, jadi sudah pasti Mareeq akan mengantarnya ke bandara.Naomi menatap beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, lalu memalingkan wajah dan melanjutkan fokus pada komputernya. Claudia datang sambil membawa map dan secangkir kopi. Ia berhenti di dekat meja Naomi, lalu mengikuti arah pandangan Naomi yang sempat kembali melirik ke sudut ruangan.“Kamu mencari Mareeq?” tanyanya santai.Naomi langsung menatap layar. “Tidak.”Claudia tersenyum kecil, seolah jawaban itu tidak penting. “Dia cuti hari ini.”Ja

  • Bilur Bulir Bertaut   Rapat Pertama

    Keesokan paginya, Naomi siap dengan hari kerja pertama di tahun itu. Dia sengaja datang lebih awal dari biasanya. Ia meletakkan tas di meja, menyalakan komputer, lalu duduk dengan punggung tegak sambil menatap layar yang belum sepenuhnya menyala.Pikirannya sudah berjalan lebih cepat dari perangkat di depannya. Hari ini ada rapat dengan Gigantic. Moodnya sedikit buruk. Bukan karena pekerjaannya, melainkan karena satu orang yang selalu memaksanya berurusan dengan Gigantic. Rahaal.Naomi mengambil napas pelan, lalu membuka agenda kerja di layar. Ia mencoba fokus pada catatan presentasi, jadwal, dan dokumen yang harus dibawa. Tapi pikirannya tetap tahu bahwa cepat atau lambat, pria itu akan muncul dari ruangannya.Dan benar saja. Beberapa menit kemudian, pintu ruang kerja di belakang meja kerjanya terbuka. Rahaal keluar sambil merapikan lengan kemejanya. Langkahnya tenang, wajahnya seperti biasa. Terlalu tenang untuk seseorang yang sering mengacaukan suasana tanpa

  • Bilur Bulir Bertaut   Kata yang Tidak Terucap

    Makan siang itu akhirnya mencapai ujungnya tanpa benar-benar selesai. Piring-piring mulai kosong. Percakapan mereda dengan sendirinya, seperti sesuatu yang tidak ingin dipaksakan.Naomi menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap meja sebentar. Leon mengambil gelasnya, menghabiskan sisa minuman. Mareeq tanpa banyak kata, ia mengangkat tangannya memanggil pelayan.Begitu pelayan datang, Mareeq berkata pelan."Bisa minta tagihannya?" pinta Mareeq."Baik. Mohon tunggu sebentar."Pelayan pun pergi dari meja mereka. Tak berapa lama pelayan kembali membawakan sebuah kotak kayu tertutup berisi rincian tagihan. Dia meletakkannya di atas meja dan hendak meninggalkan mereka. Seolah tidak ingin bertele-tele, Mareeq langsung mengeluarkan kartunya dan meletakkan di atas tagihan.Naomi mengangkat wajahnya sedikit. "Kami yang akan bayar... ”Mareeq menatap ke arah Naomi dan tersenyum, lalu menatap ke arah pelayan. Dia mengisyratakan untuk segera

  • Bilur Bulir Bertaut   Makan Siang yang Penuh Kejutan

    Siang itu turun dengan tenang, seperti halaman pertama yang tidak ingin terburu-buru dibaca. Cahaya matahari menyelinap masuk melalui jendela besar, jatuh lembut di atas meja yang belum benar-benar berantakan. Piring dan gelas masih tersusun rapi di meja. Percakapan yang mengalir pelan tanpa arah yang jelas.Di antara suara sendok yang sesekali bersentuhan dengan piring dan dengung halus dari sekitar, Naomi duduk di sana. Tidak terburu-buru. Tidak juga benar-benar diam.Makan siang yang sudah dijanjikan. Di tempat yang tidak terlalu ramai, bersama seseorang yang sudah mengisi ruang di hidupnya. Tidak ada rencana besar. Tidak ada ekspektasi berlebih. Hanya waktu yang berjalan sebagaimana mestinya.Sampai ponselnya bergetar di atas meja. Getaran itu singkat. Namun cukup untuk menarik perhatian Naomi dari pikirannya sendiri. Layarnya menyala. Satu nama muncul di sana, Mareeq.Naomi menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Seolah memberi wak

  • Bilur Bulir Bertaut   Perayaan Tahun Baru

    Malam datang perlahan. Apartemen terasa lebih hidup dari biasanya. Lampu menyala hangat, meja dipenuhi camilan, termasuk kardus wafer yang kini sudah terbuka dan berkurang beberapa.Leon berdiri di depan kulkas yang ada di dapur kecil. Dia mengambil dua kaleng minuman dan membuka keduanya. “Kamu yakin nggak mau keluar?” tanyanya.Naomi duduk di sofa, kaki dilipat santai, satu kaleng wafer di tangan. “Nggak. Di sini aja.”Leon berjalan mendekat, menyerahkan satu kaleng ke Naomi. “Baiklah. Tahun baru versi hemat energi.”Naomi mendengus kecil. “Hmm. Memang itu tujuanku."Leon duduk di sebelahnya, cukup dekat tanpa benar-benar menyentuh. Suara TV menyala, tapi tidak benar-benar mereka perhatikan. Countdown acara tahun baru mulai terdengar samar. Naomi melirik jam di layar.“Hampir.”Leon mengangguk, lalu berdiri. “Ayo ke balkon.”Naomi ikut bangkit, masih membawa mi

  • Bilur Bulir Bertaut   Usaha dan Kepekaan

    Pagi berikutnya datang tanpa banyak tanda. Naomi sedang duduk santai di apartemennya ketika ponselnya bergetar. Nama Mareeq muncul. Ia menatap layar itu sebentar.Mareeq mengatakan sedang ada di tempat parkir apartemen. Naomi mengerutkan kening, kenapa dia tiba-tiba ada di bawah. Bukankah seharusnya dia liburan bersama Raya dan Freya. Tanpa banyak pikir, Naomi bangkit, mengambil jaket tipisnya, dan keluar dari apartemen.Beberapa menit kemudian, ia sudah sampai di area parkiran. Mobil Mareeq terlihat dari kejauhan. Naomi berjalan mendekat, membuka pintu penumpang, lalu masuk tanpa banyak bicara. Ia duduk. Menutup pintu. Hening.Mareeq ada di kursi pengemudi, seperti biasa tenang, seolah tidak sedang melakukan sesuatu yang aneh. Padahal datang ke apartemen Leon adalah hal yang tidak wajar.Naomi melirik sekilas. “Kamu ke sini pagi-pagi cuma buat nyuruh aku turun?”Tidak ada jawaban langsung, Mareeq hanya menatap Naomi dengan senyuman. Ma

  • Bilur Bulir Bertaut   Perlindungan Tak Terlihat

    Perahu angsa akhirnya kembali ke dermaga setelah hampir dua puluh menit berkeliling danau. Freya turun lebih dulu dengan langkah ringan, masih memegang tangan Mareeq.“Aku lapar,” katanya tiba-tiba.Raya tertawa kecil. “Tadi katanya masih kuat.”Freya

  • Bilur Bulir Bertaut   Taman Hiburan

    Raya terdiam. Kalimat itu seperti cermin yang tiba-tiba dipasang tepat di depannya. Sepanjang hari ini, yang ia pikirkan hanyalah kemungkinan Naomi mengambil sesuatu darinya. Padahal perempuan itu bahkan sibuk menyalahkan dirinya sendiri. Raya menghembuskan napas pelan. Ia tiba-tiba merasa&hellip

  • Bilur Bulir Bertaut   Rasa Bersalah

    Freya lalu berlari ke kamarnya, meninggalkan kedua orang dewasa itu dalam keheningan yang agak berbeda. Raya menoleh pelan ke arah Mareeq yang masih duduk di sofa. Mareeq berdiri dan berjalan ke dapur mengambil segelas air. Raya memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan,

  • Bilur Bulir Bertaut   Dua Suasana

    Mobil Mareeq berhenti perlahan di area parkir apartemen Naomi. Matahari masih menyinari taman, membuat area parkir terlihat hangat. Naomi membuka sabuk pengamannya sambil melirik ke luar jendela.“Terima kasih sudah mengantarku,” kata Naomi santai.Mareeq hanya menganggu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status