Suasana di ruang tamu apartemen terasa jauh lebih dingin daripada biasanya. Naomi duduk di pinggiran sofa, meremas jemarinya yang dingin. Sementara Leon berdiri di dekat jendela, membelakangi Naomi. Ia baru saja menceritakan kejadian di parkiran itu, meski dengan nada yang sangat hati-hati.Leon berbalik, wajahnya yang biasa tenang kini tampak mendung. Ada garis ketegangan di dahinya yang tidak bisa ia sembunyikan."Kenapa harus di mobil?" potong Leon cepat. Ia berjalan mendekat, menatap Naomi dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu tahu itu kantor. Ada kafe di lobi, ada ruang rapat, bahkan ada kantin. Kenapa kamu setuju masuk ke dalam mobil pria beristri, di parkiran yang sepi, hanya untuk 'bicara'?""Dia yang memintaku, Leon. Awalnya karena dia membawakan oleh-oleh. Lalu tidak sengaja bertemu karena mobil kami bersebelahan. Kemudian jadi kebiasaan kami bicara di sana. Kamu tahu Mareeq itu pemalu," suara Naomi melemah saat ia mencoba merunut kembali bagaiman
Read more