Share

Privat Room

Author: NaoMiura
last update publish date: 2026-01-30 20:00:01

Papa berhenti merapikan serbetnya. Ada jeda singkat, hampir tak terlihat. Namun, cukup untuk membuat Naomi menyadarinya. Papa mengangkat wajah, senyumnya tetap tenang.

“Ada orang lain yang akan bersama kita”.

Kalimat itu menggantung di udara. Vino melirik Naomi sekilas, lalu kembali menunduk menatap buku menu. Ia memilih diam. Naomi mengangguk pelan. Ada sesuatu yang terasa ganjil, satu kursi kosong yang sengaja dibiarkan. Bukan karena lupa, melainkan karena menunggu.

“Ki

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bilur Bulir Bertaut   Tip

    Usai menyelesaikan meeting dengan klien, Naomi dan Mareeq berjalan keluar dari restoran yang berada di dalam pusat perbelanjaan. Jam makan siang telah lewat, tetapi mall masih cukup ramai. Orang-orang berlalu-lalang membawa kantong belanja, beberapa keluarga terlihat mengantre di restoran, sementara alunan musik pelan terdengar dari pengeras suara.Naomi berjalan sambil memeluk beberapa map berisi dokumen meeting."Kita selamat," kata Mareeq.Naomi meliriknya. "Memangnya tadi seseram itu?""Kamu tidak lihat ekspresi klien waktu minta revisi tambahan?""Masih wajar.""Itu karena kamu sudah kebal."Naomi terkekeh kecil. "Coba bayangkan ekspresimu di depan bawahanmu. Kurang lebih sama.""Benarkah?" gumam Mareeq.Mereka melewati beberapa gerai minuman sebelum Mareeq berhenti di depan sebuah booth matcha take away."Matcha?" tanya Mareeq menawari.Naomi yang tadinya terlihat lelah langsung mendongak. Naomi tersenyum. "Mau.""Baiklah."Mereka pun ikut mengantre.Saat giliran mereka hampir t

  • Bilur Bulir Bertaut   Bioskop

    Naomi membalas tatapan itu. Keduanya sama-sama tampak bingung. Suasana mendadak hening. Killa, yang baru duduk di sebelah Naomi sambil membawa minuman, membeku. Orang-orang di sekitar yang menyadari kejadian itu mulai menahan senyum.Wanita itu berkedip. "Eh..."Naomi juga berkedip. Lalu, entah kenapa wanita itu perlahan mengulurkan tangan. "Makasih." Ia mengambil segenggam popcorn.Kress. Dimakannya dengan santai. Naomi melotot kecil. Dia benar-benar mengambilnya. Wanita itu mengunyah beberapa detik. Pria di sampingnya tampak tidak percaya.Killa menunduk sambil menggigit bibirnya sendiri. Bahu pria itu mulai bergetar. Ia sedang berjuang keras untuk tidak tertawa.Wanita itu menoleh lagi pada Naomi. "Makasih, ya."Naomi menatap ember popcornnya. Lalu menatap wanita itu. Kemudian, dengan ekspresi datar dan polos, ia berkata, "popcorn buat kakak saja. Tapi, jangan marahin kakaknya. Kasihan." Naomi melirik pria di samping wanita itu.He

  • Bilur Bulir Bertaut   Popcorn

    Ketika Naomi sedang merapikan beberapa dokumen di mejanya ketika ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuatnya tersenyum kecil. Killa. Dia pun segera membuka isi pesannya.Killa: Mau nonton nggak?Naomi membalas cepat.Naomi: Tumben ngajakin nonton?Tak lama kemudian balasan masuk.Killa: Iya. Zara ada urusan keluarga mendadak. Sayang tiketnya kalau hangus. Daripada nonton sendirian.Naomi tertawa pelan.Naomi: Baiklah. Kamu yang jemput ke sini ya? Jam4 sore.Killa: Oke.Setelah membalas, Naomi kembali bekerja. Namun, tanpa sadar, senyumnya masih tertinggal di wajah."Ada kabar baik?"Naomi menoleh. Flora duduk di samping mejanya sambil memegang mug kopi."Hah?""Senyum-senyum sendiri natap HP kayak orang gila."Naomi terkekeh kecil. "Oh, bukan apa-apa. Killa ngajak nonton.""Killa?" Mata Flora membesar. "Kamu masih berteman dengannya?""Iya. Kami sahabata

  • Bilur Bulir Bertaut   Es Krim dan Parfume

    Usai dari toilet,Naomi tidak tahu apakah harus segera kembali ke booth atau dia harus jalan-jalan di sekitar mall. Saat sedang berjalan santai, pandangannya tanpa sengaja tertuju pada sebuah butik parfum premium. Dan di sanalah ia melihat seseorang yang dikenalnya. Rahaal.Naomi otomatis melambat. Bukan karena ingin menguping. Hanya saja cukup mengejutkan rupanya keperluan lain ituy adalah membeli parfum. Apalagi di atas meja kasir sudah ada beberapa kotak parfum.Satu. Dua. Tiga. Empat. Naomi mengernyit. Sebanyak itu? Seolah sedang menimbun stok. Aneh. Namun sebelum rasa penasarannya berubah menjadi tindakan yang lebih memalukan, Naomi segera pergi dari sana.Ketika kembali, suasana di area booth jauh lebih tenang. Yang ada hanya Claudia yang duduk di kursi dekat meja display sambil memainkan ponselnya. Naomi menghampiri lalu duduk di kursi sebelahnya."Mareeq ke mana?" tanya Naomi.Claudia mengangkat kepala. "Pergi sebentar.""Ke mana?"

  • Bilur Bulir Bertaut   Booth Bazaar

    Mareeq keluar dari ruangannya dan berjalan ke depan meja Naomi."Naomi, ikut aku ke area bazar, ya. Aku mau lihat persiapan booth." ujar Mareeq.Naomi yang sedang memeriksa dokumen langsung mengangguk. "Baik."Belum sempat berdiri, Claudia yang mendengar percakapan itu segera menoleh. Mareeq lalu menatap ke arah Claudia."Claudia juga ikut." ucap Mareeq tegas.Claudia tersenyum lega. Mareeq masih mengajaknya untuk ikut dalam pekerjaannya. Claudia menganggap Mareeq masih mengandalkannya."Booth kita di Hall B, dekat pintu samping. Katanya backdrop-nya sudah dipasang," katanya.Claudia langsung mengangguk semangat. "Bagus. Aku mau lihat apakah warna backdrop-nya sesuai desain yang kita kirim atau tidak."Sejujurnya Naomi tidak terlalu antusias melihat booth. Bekerja bersama Claudia kadang membuatnya lelah. Dia harus menahan diri dengan Mareeq. Terkadang ada hal-hal yang dilakukan Claudia seperti menyerangnya secara halus.

  • Bilur Bulir Bertaut   Aroma yang Berbeda

    Hari Senin selalu datang terlalu cepat. Rasanya baru kemarin kejadian menangkap buket bunga. Lalu, Naomi duduk di bangku taman sambil makan siomay bersama Killa. Sekarang ia sudah kembali berada di depan layar komputer dengan daftar pekerjaan yang terasa tidak ada habisnya.Pagi itu suasana kantor jauh lebih sibuk dari biasanya. Beberapa proyek sedang berjalan bersamaan dan semua orang terlihat bergerak cepat sejak jam kerja dimulai. Tim pemasaran terlihat mondar-mandir sejak pagi.Naomi baru saja keluar dari ruang meeting ketika melihat dua orang berjalan melewati koridor. Bahkan Flora yang biasanya masih sempat bergosip sebelum jam sembilan kini terlihat serius menatap layar monitornya.Naomi selesai dari meeting ketika melihat dua sosok yang cukup dikenalnya. Leon dan Maya. Mereka berjalan berdampingan dari arah lift. Maya sedang menjelaskan sesuatu sambil menunjuk di beberapa dokumen. Leon mendengarkan sambil sesekali mengangguk.Naomi memperlambat la

  • Bilur Bulir Bertaut   Taman Hiburan

    Raya terdiam. Kalimat itu seperti cermin yang tiba-tiba dipasang tepat di depannya. Sepanjang hari ini, yang ia pikirkan hanyalah kemungkinan Naomi mengambil sesuatu darinya. Padahal perempuan itu bahkan sibuk menyalahkan dirinya sendiri. Raya menghembuskan napas pelan. Ia tiba-tiba merasa&hellip

  • Bilur Bulir Bertaut   Salon dan Tawa

    Naomi tersenyum kecil. “Itu hampir semua anak kecil.”“Iya,” Mareeq ikut tersenyum tipis. “Tapi akhir-akhir ini dia lebih suka menggambar.”“Menggambar?”“Dia bisa duduk berjam-jam hanya dengan krayon dan kertas.”

  • Bilur Bulir Bertaut   Kebekuan yang Mencair

    "Mareeq mungkin juga sama. Dia tidak akan mengingat hal kecil," jawab Naomi, mencoba memberikan senyum paling profesional yang ia miliki. "Cheese cake dan matcha, Mareeq ingat karena aku sering memesannya setiap hari. Tidak lebih dari itu."Raya manggut-manggut. Namun kilatan di matanya me

  • Bilur Bulir Bertaut   Dessert yang Terasa Pahit

    Pertanyaan itu terdengar seperti pujian, namun bagi Naomi, itu adalah ujian paling berat. Ia bisa merasakan keringat dingin mulai muncul di tengkuknya.Naomi hanya menanggapi dengan senyuman. Naomi melirik ke arah Mareeq. Pria itu hanya diam dan fokus pada makanannya. Tapi tak berapa lama,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status