ログインJumat siang yang terik itu terasa berbeda bagi Naomi. Saat ia berjalan menuju area parkir kantor untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di mobil, langkahnya mendadak terkunci. Di sana, di sebelah mobilnya, seharusnya itu tempat kosong. Tapi, dia melihat sebuah mobil hitam yang sangat ia kenali. Mobil Mareeq.
Tiiinn! Mareeq menekan klakson singkat yang membuat Naomi tersentak terkejut. Naomi berjalan mendekat dengan perasaan campur aduk antara senang dan bingung. Ia mengetuk kaca jende
Mobil berhenti di depan sebuah restoran bergaya Eropa yang tidak terlalu ramai. Renata memang sengaja memilih tempat yang tenang agar mereka bisa berbincang tanpa terganggu. Pelayan mengantar keduanya ke meja di dekat jendela.Setelah memesan makanan, suasana sempat diisi obrolan ringan mengenai pekerjaan Renata di London dan perkembangan perusahaan. Tak lama kemudian, minuman mereka datang lebih dulu. Naomi mengaduk perlahan teh hangat di depannya. Tatapannya jatuh pada permukaan cangkir. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi masih ragu.Renata yang mengenal putrinya sejak kecil langsung menyadarinya. "Ada yang kamu pikrikan?"Naomi mengangkat kepala. "Hm..." Ia tersenyum kecil, sedikit canggung."Mama...""Iya?""Waktu Mama hamil Kak Vino, perasaan Mama gimana?"Renata meletakkan cangkir kopinya. Pertanyaan itu membuat Renata terdiam beberapa detik. Ia tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia justru tersenyum lembut, seolah seda
Jam kerja akhirnya usai. Satu per satu karyawan mulai mematikan komputer dan merapikan meja masing-masing. Hari jumat memang hari yang pendek dan para karyawan bergegas untuk meninggalkan kantor.Naomi pun memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, lalu mengenakan blazer tipisnya. Kotak susu yang diberikan Mareeq sudah habis tinggal bungkusnya, Naomi berniat membuangnya."Naomi, aku duluan ya," pamit Flora."Iya, hati-hati." balas Naomi.Naomi tersenyum kecil sebelum ikut melangkah menuju pintu keluar. Langkahnya tenang hingga tiba di depan pintu, pintu terbuka dari luar. Naomi sempat terkejut. Itu Rahaal. Mereka sama-sama berhenti sepersekian detik. Tatapan mereka bertemu.Naomi tidak segera mengalihkan pandangan. Begitu pula Rahaal. Untuk beberapa saat, pria itu hanya menatapnya dalam diam. Ada sesuatu di matanya. Seolah ingin mengatakan sesuatu.Naomi melihat di tangannya terdapat sebuah map berwarna hitam dan beberapa lembar dokumen yang
Meeting selesai menjelang siang. Semua mulai merapikan dokumen dan laptop. Naomi sengaja sedikit memperlambat gerakannya.Biasanya setelah rapat, Rahaal akan menunggu Naomi bicara dengan kakaknya. Hari ini, dia bergegas merapikan dokumen. Ia melewati belakang kursi Naomi dengan menjaga jarak beberapa langkah, lalu langsung keluar ruangan bersama supervisor lain.Naomi hanya memperhatikannya sekilas. Ia memilih untuk tidak memikirkannya terlalu lama. Seperti biasanya, setelah rapat gabungan selesai, ia menyempatkan diri menemui Vino sebelum sang kakak kembali ke kantor Gigantic."Naomi, ayo kembali." ajak Claudia."Kamu duluan saja. Aku akan mampir ke tempat lain sebentar.""Oke. Aku duluan." ujar Claudia lalu pergi meninggalkan ruangan.Vino baru saja memasukkan beberapa map ke dalam tas kerjanya ketika melihat Naomi menghampirinya."Kak."Vino menoleh dan tersenyum. Dia melihat adiknya dengan seksama. Kali ini Naomi tampak jau
"Naomi!" panggil Flora.Naomi mendekat. "Wah, rame banget.""Rujakan!" Flora menunjuk baskom besar berisi aneka buah. "Mau?"Naomi belum sempat menjawab. Flora menepuk jidatnya. "Kamu jangan makan nanas. Makan saja apa yang ada di mejamu.""Mejaku?" tanya Naomi bingung. Dia pun berjalan menuju mejanya.Naomi melihat sekotak besar buah-buahan potong. Tidak satu macam, tapi berbagai macam. Jelas ini bukan buah untuk rujak. isinya buah yang lebih premium.Flora menghampiri sahabatnya itu. "Kamu dapat yang berbeda. Mareeq perhatian sekali."Claudia yang sejak tadi ikut menikmati rujak menghentikan aktivitasnya. Tatapannya berpindah pada kedua sahabat yang asik memperhatikan sesuatu di meja Naomi. Claudia yang penasaran pun menghampiri mereka."Buah yang berbeda. Lebih mahal." ujar Claudia.Naomi dan Flora reflek menoleh ke belakang."Ya kan nggak apa. Berarti Mareeq tahu Naomi tidak boleh makan nanas." bela Flora.
"Kamu mau makan ini?"Naomi menggeleng. "Belum.""Kenapa beli? Ibu hamil tidak boleh makan nanas kan?"Naomi duduk di sofa. "Tadi di jalan ada ibu-ibu jualan nanas."Leon mendengarkan."Aku kasihan. Sore-sore gerimis masih jualan."Leon mengangguk pelan. Wajahnya tetap tenang. "Oh."Leon membuka mika, lalu menatap Naomi. "Kamu tahu, ibu hamil katanya nggak boleh makan nanas."Naomi menghela napas. "Aku tidak tahu itu cuma mitos atau memang harus dihindari.""Biar aku aja yang makan."Naomi terkekeh. "Yam baiklah."Leon mengambil sepotong nanas lalu memasukkannya ke mulut. Matanya langsung sedikit membesar."Manis.""Serius?" tanya Naomi.Leon mengangguk sambil mengunyah. Naomi memperhatikan dengan penasaran."Jangan tergoda." Leon mengingatkan."Aku tidak." bantah Naomi.Hanya dalam beberapa suapan nanas itu habis dilahap Leon. Leon menutup mika nanas yang sudah kos
Tangan Mareeq yang sudah berada di tuas transmisi langsung berhenti. Ia menoleh cepat ke arah Naomi. Pikirannya lebih dulu dipenuhi kecemasan. Naomi berkali-kali mengatakan belum siap menjadi ibu. Belum siap memiliki bayi. Kini, tiba-tiba ia bilang ingin beli nanas, buah yang sering dikaitkan masyarakat dengan mitos bisa memicu keguguran."Nanas? Kenapa tiba-tiba ingin beli?"Naomi masih melihat ke arah luar. "Ibu itu kasihan."Mareeq melihat ke arah pandang Naomi."Aku pengin beli dagangannya. Tapi, aku ragu boleh makan atau tidak."Beberapa detik, Mareeq hanya terdiam. Lalu ia mengembuskan napas panjang. Raut wajahnya yang semula tegang perlahan melunak."Aku salah paham."Naomi memandangnya beberapa saat, lalu terkekeh pelan. "Salah paham kenapa?"Kemudian Naomi menyadari apa yang sedang dipikirkan Mareeq. Dia sudah bisa menebak salah paham apa yang dimaksud Mareeq.Tanpa berkata apa-apa, Mareeq kembali mematikan mesi
Naomi bisa merasakan panas yang samar dari tubuh Rahaal karena jarak mereka yang kini terkikis. Pria ini tidak sedang bernegosiasi. Dia sedang memberikan ultimatum yang dibungkus dengan pengorbanan yang tidak masuk akal."Jika keberadaan Mareeq adalah satu-satunya cara agar kamu merasa nya
Ruangan Rahaal terasa seperti kotak kaca yang kedap suara, di mana waktu seolah dipaksa untuk berjalan lebih lambat dan teratur. Berbeda dengan ruangan Mareeq yang hangat, penuh dengan tumpukan kertas yang agak berantakan dan aroma kopi yang ramah, ruangan Rahaal adalah definisi dari minimalisme
Undangan ramah itu muncul lancar dari mulut Naomi. Naomi ingin menunjukkan bahwa jika ada hal yang harus dibicarakan, itu harus dilakukan di tempat terbuka di mana siapa pun bisa melihat. Tidak perlu tempat tersembunyi seperti parkiran lagi. Mareeq mengangguk pelan, tampak sedikit terkejut dengan
Angin di rooftop berembus cukup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Naomi yang tampak kusut, seiring dengan pikirannya yang kalut. Di sini, jauh dari aroma sushi dan tatapan tajam di ruang kantor. Naomi akhirnya bisa menarik napas panjang, meski dadanya masih terasa sesak.Flora du







