Rusmi duduk di sofa ruang tamu rumah megahnya, matanya tajam menerawang ke jendela berukuran sedang yang memperlihatkan jalan raya dengan banyak kendaraan berlalu lalang. Bibirnya terkunci rapat, tangan terlipat di pangkuan, menunjukkan ketegangan yang sulit ia sembunyikan. Marah, kecewa, dan masih banyak lagi perasaan yang berkecamuk dalam dada. Ia merasa Gendis sudah sangat berani kali ini. “Gendis itu... terlalu berani,” gumamnya pelan, suaranya bergetar antara marah dan takut.Kenangan pertemuan beberapa hari lalu masih terbayang jelas. Gendis menghadapi Rusmi di ruangan yang sama. Mata Gendis berkobar, tidak gentar sedikit pun."Anda harus tahu, Bu Rusmi, saya tidak akan diam saja. Semua yang Reyhan lakukan, semua aibnya, harus diketahui dunia," kata Gendis dengan nada yang menantang.Rusmi menghela napas panjang, dan tanpa berkata banyak hanya menatap tajam menantunya itu. "Hati-hati, Gendis. Kau bermain api."Awalnya Rusmi hanya berpikir jika Gendis hanya menggertak saja. Namu
最終更新日 : 2025-12-21 続きを読む