Aziz mendengar suara tangisan Zizi dan Sasya yang pecah di seberang telepon. Kedua putrinya terdengar sangat terguncang, hingga Aziz merasa nyeri di dadanya. "Sayang, kalian kenapa?" tanyanya lagi dengan suara yang bergetar.Di antara isakan yang memilukan, akhirnya suara Sasya yang serak terdengar. "Opa... Opa sudah enggak ada, Papa," katanya sambil terisak.Aziz tertegun. Tubuhnya mendadak kaku, dan telepon di tangannya hampir terjatuh. Alena yang berada di dekatnya ikut dilanda kecemasan. Dia menatap Aziz yang wajahnya berubah pucat."Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un," gumam Aziz, suaranya parau. "Yang sabar ya, Sayang. Papa dan Mama akan selalu ada buat kalian.""Papa... Papa dan Mama enggak ke sini?" Zizi menyela dengan suara yang penuh harap. Namun, tangisnya semakin pecah, membuat hati Aziz dan Alena semakin terluka.Aziz hendak menjawab dengan kata tidak, karena dia tidak ingin Alena yang sedang hamil ikut mengalami perjalanan yang melelahkan. Namun, sebelum dia sempat berb
ปรับปรุงล่าสุด : 2025-12-31 อ่านเพิ่มเติม