공유

Bab 96

작가: A mum to be
last update 게시일: 2026-01-03 11:29:38

“Pak Aziz. Anda dipanggil oleh dokter!”

Suara perawat barusan memecah keheningan yang sempat tercipta. Aziz buru-buru menegakkan tubuh dan masuk ke dalam ruangan. Dia tak banyak bertanya dan hanya menandatangani dokumen yang sudah tersedia.

“Sebentar lagi pembukaan persalinan menuju lengkap. Jadi Bu Alena akan kami pindahkan ke ruangan persalinan,” jelas sang dokter. Aziz pun mengangguk cepat.

Kini Aziz turut mengantarkan istrinya tanpa melepas genggaman tangan mereka. Hingga beberapa menit kem
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 213 Pelabuhan Terakhir (Tamat)

    "Aku sangat yakin, Mas. Mbak Sandra butuh kebahagiaannya sendiri.” Aziz menatap istrinya dengan kekaguman yang sulit disembunyikan. Ia menarik napas lega, seolah beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya luruh begitu saja. "Terima kasih, Sayang. Kamu jauh lebih bijaksana daripada yang aku kira." Satu bulan berlalu dengan cepat, membawa perubahan atmosfer yang luar biasa di kediaman mereka. Jakarta sedang memasuki musim yang lebih bersahabat, sama seperti hubungan Alena dan Aziz yang kini kian merekat. Tidak ada lagi sindiran tentang takaran gula aren atau kecemburuan buta. Semuanya terasa lebih ringan. Sore itu, halaman belakang rumah mereka tampak lebih ramai dari biasanya. Suara tawa pecah dari arah kolam renang. Sasya akhirnya pulang untuk liburan semester. Kehadirannya membawa energi baru yang ceria di rumah tersebut."Ma! Lihat Dek Arka, dia sudah bisa merespons panggilanku!" seru Sasya dengan riang. Ia mengenakan kaus santai, wajahnya t

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 212 Dia Tidak Tahu Apa-Apa

    "Tapi Mas Jimmy benar, Mas. Kamu memang enggak pernah melamarku secara romantis," ucap Alena lirih, memecah keheningan yang sempat menggantung setelah kepergian Jimmy yang terburu-buru. Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Jimmy baru saja pamit dengan wajah kikuk, membawa serta aura canggung setelah tanpa sengaja memantik api dari masa lalu yang sensitif. Sementara kini Alena memperhatikan Aziz yang masih berdiri mematung di dekat meja kerja. Napas suaminya masih sedikit memburu, rahangnya terkatup rapat, sisa dari pembelaan emosional yang baru saja ia lontarkan di depan Jimmy. Ada rasa bangga sekaligus haru yang merayap di hati Alena. Ia tidak menyangka bahwa Aziz akan sebegitu tersinggungnya saat sejarah pernikahan mereka dianggap remeh. Meski dimulai dengan kata terpaksa, Aziz seolah menegaskan bahwa proses setelahnya adalah sesu

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 211 Mbak Sandra??

    Tangisan Arka pecah, melengking tinggi bersahutan dengan isak tangis Alena yang tidak lagi bisa dibendung. Pertahanan yang ia bangun selama sebulan ini runtuh seketika melihat kemeja Aziz yang terbuka dan barang-barang wanita yang berserakan di sofa. Di mata Alena, ruangan ini bukan lagi kantor suaminya, melainkan bukti nyata dari pengkhianatan yang paling rendah.“Sayang, tenang dulu ya. Aku bisa jelasin,” Aziz mencoba mendekat dengan tangan gemetar.“Apa, hah?? Apa yang mau kamu jelasin, Mas?” jerit Alena pilu. “Sepatu ini? Pakaian ini? Atau kemejamu yang terbuka itu?” Tepat saat ketegangan itu berada di puncaknya, pintu jati besar itu kembali terbuka. Seorang pria bertubuh tegap masuk dengan wajah ceria sembari menenteng sekotak cokelat mewah. Namun, langkahnya terhenti seketika melihat Alena

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 210 Apa-Apaan Ini??

    Satu bulan telah berlalu sejak kepulangan Alena ke rumah itu. Perlahan namun pasti, Alena mulai menata kembali kepingan otoritasnya yang sempat tercerai-berai. Ruang makan kini kembali beraroma masakannya, dan setiap sudut rumah mulai memancarkan kembali seleranya yang lembut namun tegas. Pukul sebelas siang, matahari Jakarta sedang terik-teriknya, namun suasana di dapur Alena terasa sejuk. Ia baru saja selesai menata kotak bekal mewah berisi nasi daun jeruk, empal gentong, dan sambal goreng ati kesukaan Aziz. Hari ini, Alena memiliki rencana spesial. Ia ingin memberikan kejutan makan siang ke kantor suaminya, sesuatu yang sudah lama sekali tidak ia lakukan. Alena berdiri di depan cermin besar di lorong, merapikan gamis berwarna pastel yang ia kenakan. Kerudung senadanya

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 209 Biar Kamu Dengar Sendiri

    "Angkat saja. Nyalakan pengeras suaranya," kata Aziz sambil tersenyum penuh arti. Ia bisa merasakan tubuh Alena yang seketika menegang di dalam dekapannya. Aziz tahu bahwa istrinya kembali merasa tidak nyaman, sebuah naluri pertahanan yang wajar muncul setelah kejadian di meja makan tadi pagi. Ia ingin membuktikan sesuatu, ingin menunjukkan bahwa tidak ada rahasia yang ia sembunyikan di balik layar ponsel itu."Enggak ah. Kan hape Mas yang bunyi," sewot Alena. Ia membuang muka, mencoba mengabaikan getaran ponsel yang seolah-olah sedang menggedor pintu privasi mereka yang baru saja kembali rekat."Angkatlah, Sayang. Biar kamu dengar sendiri," rayu Aziz lembut, sambil menyodorkan ponselnya ke tangan Alena. Alena akhirnya menurut meski dengan bibir yang sedikit mengerucut. Ia menyentuh tombol hijau dan mengaktifkan pengeras suara. Seketika, suara Sandra yang menggebu-gebu memenuhi kesunyian kamar yang masih hangat itu."Mas, aku baru saja telepon pihak perwakilan

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 208 Kata Maaf

    Keheningan yang pekat mendadak jatuh di antara mereka, menelan sisa-sisa gema suara Aziz yang baru saja meninggi. Alena terdiam, napasnya masih memburu kecil, namun matanya yang tadinya tajam kini mulai melunak oleh rasa bersalah yang merayap. Di sisi lain, Aziz berdiri mematung, menatap istrinya dengan gurat penyesalan yang mendalam karena telah kehilangan kendali atas emosinya. Detik demi detik berlalu hanya dengan suara detak jam dinding yang seolah mengejek kekakuan mereka. Sampai akhirnya, bibir keduanya bergerak hampir secara bersamaan, memecah kesunyian dengan satu kata yang sama."Maaf..." Mereka tertegun sejenak, saling menatap dengan mata yang berkaca-kaca. Tanpa perlu aba-aba lagi,

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 41

    Aziz memandang Arya dengan tajam saat pria itu berdiri di depan pintu rumahnya. Ada sesuatu dalam tatapan Arya yang membuat dadanya bergejolak. Sialnya, ia tidak bisa menunjukkan sedikit pun kemarahannya. Sebab, tak jauh dari Arya, berdiri Nia dan Rini yang juga merupakan teman dekat Alena. Ia terp

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 40

    Aziz menatap layar ponselnya dengan tatapan tajam dan rahang yang mengeras. Pesan dari Arya terasa seperti tantangan terbuka. Dia membaca baris itu berulang kali.[Saya tahu bahwa Alena terpaksa setuju menikah dengan Anda karena ingin meneruskan kuliahnya. Jadi mari kita bersaing secara adil.]Perl

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 39

    Alena mengangguk sambil tersenyum. Dia lantas mengulurkan tangannya pada perempuan yang menyapa mereka tadi.“Alena,” katanya memperkenalkan diri.“Saya Maysarah. Wali kelasnya Sasya. Dia pernah cerita ke saya tentang … Bu Alena. Bolehkan saya panggil ibu saja walaupun Anda masih muda?”

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 38

    “Mas Arya? Jangan bilang kalau dia yang di desa KKN itu, Len,” kata Nia menimpali.Rini, teman mereka yang juga ada di sana berujar, “Kayaknya bener deh.”Alena hanya tersenyum kecut. “Ya udah yuk. Kita ke sana.”“Enggak ih. Dianya mau ketemuan sama kamu. Ya udah sendirian aja, Len. Siapa tahu belu

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status