Malam itu terasa begitu mencekam. Ambulans meluncur dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit, sirenenya memecah keheningan jalanan. Di dalam ambulans, Aziz duduk dengan wajah tegang, memegang erat tangan Alena yang terkulai lemah. Matanya berkaca-kaca, bibirnya terus bergetar melafalkan doa. Wajah Alena tampak pucat pasi, dengan keringat dingin mengalir di dahinya.“Sayang, tolong bertahan, ya. Aku di sini,” ucap Aziz dengan suara lirih, penuh penyesalan yang begitu dalam.Petugas medis terus memeriksa kondisi Alena. “Tekanan darahnya turun. Kita harus cepat,” ujar salah seorang petugas, menambah ketegangan di dalam ambulans.Sementara itu, di pojok ambulans, Zizi dan Sasya menangis terisak-isak. Zizi memegangi tangan kakaknya, sementara Sasya memeluk dirinya sendiri, tubuhnya gemetar. “Papa, Kak Alena kenapa?” tanya Zizi dengan suara serak, tetapi Aziz tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa memejamkan matanya, menahan rasa bersalah yang begitu menusuk.Saat tiba di rumah sakit, Alena se
ปรับปรุงล่าสุด : 2025-12-18 อ่านเพิ่มเติม