“Maaf ya, Len.” Ucapan itu membuat Alena mengangguk pelan. Gerakannya canggung, seperti seseorang yang ingin segera menutup sebuah momen tapi tidak tahu caranya. Ia berdiri di hadapan Tommy dengan tangan terlipat rapi di depan tubuh, senyum tipis terpasang di wajahnya. Senyum yang lebih menyerupai kebiasaan lama daripada ekspresi yang benar-benar lahir dari perasaan. “Jangan dimasukin ke hati ya omongan Mama yang tadi,” lanjut Tommy. Nada suaranya tenang, tapi ada rasa bersalah yang jelas terdengar di sana. “Semenjak sering kemo, kadang Mama suka lupa. Bukan cuma lupa orang, tapi juga lupa batasan. Padahal kan… waktunya udah enggak sama lagi.” Ia berhenti sejenak, lalu menghela napas. “Sekali lagi, Kakak minta maaf ya.” “Iya, Kak,” jawab Alena akhirnya. Hanya itu. Tidak ada kalimat lanjutan. Tidak ada penjelasan, apalagi pembelaan. Alena memilih diam, dan Tommy pun tidak memaksa percakapan berlanjut. Mereka sama-sama mengerti bahwa ada situasi tertentu yang justru akan semaki
Last Updated : 2026-01-30 Read more