Sasya baru menyadari betapa sunyinya kantin sekolah ketika tawanya sendiri terdengar paling keras. Padahal, siang ini kantin ramai. Meja-meja penuh, suara sendok beradu, obrolan bersahutan. Tapi sejak kalimat itu meluncur dari mulut salah satu temannya, dunia Sasya seperti mengecil.“Ya udahlah, Sya. Enggak usah dipikirin.”“Tenang. Lo ‘kan bisa gap year.”Kalimat itu dibungkus tawa. Santai. Seolah bukan apa-apa.Sasya ikut tersenyum. Refleks. Sudah terlatih.“Heh, apaan sih kalian,” katanya ringan sambil menusuk baksonya. “Drama banget.”“Eh, bercanda,” sahut yang lain cepat. “Kita kan cuma mikir realistis.”“Iya, iya. Santai aja,” balas Sasya. Nada suaranya terdengar normal. Bahkan terlalu normal.&
더 보기