Sore itu, langit kota memudar ke warna jingga kusam ketika Aziz berdiri di ruang meeting lantai tiga. Tangannya terlipat di depan tubuh, sikapnya tegak, tapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang belum selesai. Pintu terbuka. Perempuan itu masuk dengan langkah mantap. Ia mengenakan blazer krem rapi, rambut tergerai sebahu, wajahnya lebih dewasa dari terakhir kali terlihat, tapi tetap menyimpan garis tegas yang dulu membuatnya jatuh cinta dan sekaligus mundur.“Sore, Pak Damar, Pak Aziz.”Nada formal. Jarak yang begitu profesional.Aziz mengangguk tipis. “Sore, Bu Siska.” Pak Damar memperkenalkan secara singkat, lalu rapat dimulai. Slide demi slide berganti. Grafik, angka, proyeksi. Siska berbicara lugas, sistematis, tanpa jeda y
Read more