Lantai trotoar Kuningan masih menyisakan sisa hawa panas siang tadi, meski jam di pergelangan tangan Slamet sudah menunjukkan pukul satu dini hari lewat sepuluh menit. Slamet berdiri di balik bayangan tiang listrik, jemarinya yang kapalan bergetar saat menggenggam ponsel. Ia memperhatikan seekor kecoak yang berlari kencang menuju selokan, lalu matanya kembali tertuju pada mobil Range Rover hitam milik Sonya yang baru saja berhenti dengan derit ban yang tajam di depan ruko Sita.Pintu mobil terbuka. Sonya keluar dengan langkah yang seolah ingin membelah aspal. Wajahnya pucat, namun matanya menyala, kontras dengan daster sutra yang ditutupi jaket tebal seadanya."Mbak... Mbak Sonya, tenang dulu nggih," bisik Slamet, menghampiri Sonya dengan langkah ragu."Tenang kamu bilang, Met? Suami aku di dalam sama pelacur itu, dan kamu suruh aku tenang?" suara Sonya bergetar, bukan karena dingin, tapi karena kemarahan yang sudah di ubun-ubun. "Buka pintunya. Sekarang."
Read more