Mag-log in"Putar balik, Brian! Ibu di dalam bunker!"
Arya meraung hingga pita suaranya terasa robek, tangannya mencengkeram dasbor jip yang panas akibat sisa ledakan. Ia mengabaikan barisan barakuda militer yang mulai menutup gerbang dermaga barat seperti rahang predator raksasa. Pupil matanya melebar, napasnya tercekat oleh bayangan Larasati yang merenggang nyawa di bawah tumpukan beton dan asap putih aneh—sebuah guncangan batin yang membuat dendamnya pada Hamdan mendadak terasa hambar.
Suara deburan ombak Selat Makassar terdengar halus menembus kaca tebal balkon kamar hotel suite teratas.Lampu gantung temaram membingkai suasana privat dua insan yang terikat dalam gelombang cinta dan gairah memabukkan.Arya Baswira menatap lurus iris mata tajam istrinya, menyunggingkan seringai Alpha yang memancarkan dominasi mutlak.Tangan kapalan mantan supir itu mencengkeram lembut pinggul molek Sonya, menarik tubuh berbalut sutra itu makin menempel.Sonya Baskoro mendongakkan wajah mewahnya, membiarkan jemari lentiknya merayap meremas bahu kokoh Arya yang tegap."Mas Arya... Kamu selalu tahu cara membuat badanku gemetaran cuma lewat tatapan mata," bisik Sonya bersuara serak."Di ruang rapat tadi kamu boleh berkuasa sebagai Ratu Besi Marunda Fast, Sonya..." pangkas Arya bersuara berat."Tapi di dalam kamar ini, kamu cuma wanita pasrah yang berada di bawah kendali penuh supirmu," tambah Arya tegas.Arya mendaratkan ciuman m
Suasana ruang rapat lantai dua kantor Konsorsium Tambang Balikpapan terasa dingin bercampur tegang.AC sentral meniupkan angin sejuk, namun ketegangan di antara para pengusaha logistik lokal membuat udara terasa menyengat.Pak Iskandar duduk berkacak pinggang di ujung meja kayu jati panjang, mengetukkan jemarinya di atas tumpukan dokumen.Di sebelahnya, beberapa direktur perusahaan transportasi lokal menatap Arya dan Sonya dengan pandangan penuh permusuhan."Pak Haji Ridwan... Saya tegaskan sekali lagi, masuknya Marunda Fast ini merusak tatanan pengusaha lokal!" seru Iskandar nyaring."Mereka ini pendatang dari Jakarta yang mau memonopoli rute angkutan tambang kita!" tambah Iskandar menunjuk Arya.Pak Haji Ridwan menghela napas panjang, merapikan letak kemeja batiknya sambil menatap Iskandar secara tenang."Pak Iskandar... Keputusan Konsorsium memilih Marunda Fast itu berdasarkan lelang terbuka dan kesiapan armada," pangkas Haji Ridwa
Suara deru mesin jet pesawat komersial kelas VIP bergema halus membelah awan di atas langit Selat Makassar.Di dalam kabin kelas bisnis yang tenang, Sonya Baskoro menyandarkan punggung mewahnya di kursi kulit empuk.Gaun hamil berbahan sutra longgar berwarna krem membalut tubuh molek Ratu Besi Marunda Fast dengan sangat anggun.Namun wajah cantiknya yang dipoles riasan tipis agak pucat, menahan rasa pusing dan mual yang mendadak menyerang.Usia kehamilannya yang memasuki pertengahan bulan keempat membuat tubuh sang Direktur Utama makin sensitif terhadap guncangan udara."Hahhh... Mas Arya, kepalaku agak pusing dan berat rasanya," keluh Sonya bersuara manja dan lemas.Arya Baswira yang duduk tepat di samping istrinya langsung sigap menurunkan sandaran tangan kursi pesawat.Pria kekar bekas supir pangkalan itu merangkul lembut bahu mulus Sonya, menarik tubuh istrinya agar bersandar di dada bidangnya.Jemari kasar Arya yang penuh
Layar monitor utama di ruang kerja Direktur Utama Marunda Fast menampilkan angka grafik hijau yang melonjak tajam.Laporan audit rekapitulasi keuangan penutupan bulan mencatatkan rekor revenue rebound tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.Pencapaian angka pendapatan bersih melambung hingga tiga ratus persen pasca-penguasaan penuh jalur Nusantara dan Kalimantan.Cindy masuk membawa tumpukan dokumen rekapitulasi akhir, menyunggingkan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan."Bu Sonya! Pak Arya! Laporan pendapatan pangkalan Balikpapan dan Jawa-Sumatra sudah resmi divalidasi bank!" seru Cindy gembira.Sonya Baskoro yang duduk di kursi direktur utama menghela napas panjang, menatap grafik angka tersebut dengan binar mata haru.Ratu Besi yang dulu sempat terancam bangkrut akibat sabotase Konsorsium kini berdiri tegak di puncak kejayaan logistik nasional."Terima kasih banyak ya, Cindy... Ini semua berkat kerja keras seluruh staf
Pagi hari di ruang rapat lantai empat kantor pusat Marunda Fast dihiasi tumpukan peta rute logistik luar pulau.Seluruh kepala divisi operasional dan manajer armada duduk tegap memandangi layar proyektor utama.Arya Baswira berdiri gagah di depan mimbar proyektor dengan penunjuk laser di tangan kasarnya.Di sampingnya, Brian Baskoro sibuk mencatat penyesuaian dana bantuan hibah panti yang akan disalurkan ke Kalimantan."Proyek tambang batubara lima ratus miliar rupiah ini butuh lima puluh unit tronton tambahan di Balikpapan," papar Arya bersuara berat."Semua pengadaan armada baru sudah tercover dari surplus keuntungan rute Jawa dan Sumatra bulan ini," lanjut Arya.Para manajer divisi mengangguk-angguk kagum melihat ketelitian kalkulasi anggaran yang disusun mantan supir pangkalan itu."Sistem alokasi solar dan uang jalan supir juga sudah dikunci rapi di server pusat," tambah Brian menyela santai.Sonya Baskoro yang duduk di ku
Suasana pusat perbelanjaan megah di kawasan Jakarta Selatan mendadak menjadi perhatian banyak pengunjung.Tiga wanita berparas cantik melangkah anggun menyusuri deretan gerai perlengkapan bayi kelas atas.Sonya Baskoro berjalan di tengah mengenakan gaun terusan kasual berkelas, memancarkan aura Ratu Besi yang hangat.Di sisi kirinya, Jessy mendampingi sambil menggandeng tangan kecil Baskoro Junior yang asyik melihat toko mainan.Sementara di sisi kanan, Cindy berjalan santai mengusap perutnya yang membuncah halus dibalut gaun hamil muda."Wahhh... Baju bayi yang ini lucu banget warna merah mudanya, Bu Sonya!" seru Cindy berbinar gembira.Sonya mengambil baju bayi berbahan katun lembut itu, menyunggingkan senyum manis yang sangat menawan."Bagus kok, Cindy... Kita ambil tiga pasang untuk calon anakmu dan calon adik Anya ya," pangkas Sonya santai."Aduh Bu Sonya... Terima kasih banyak ya, selalu dimanjakan kalau belanja begini,"







