"Bapak... Bapak isih urip?!"Arya meraung liar, suaranya pecah menghantam dinding kabut yang mulai menipis di lereng Bogor. Tangannya yang berlumur jelaga mencengkeram kerah kemeja safari milik wanita itu, mengabaikan denyut nyeri di lehernya yang baru saja dijahit maut. Ia sempat terpaku menatap pupil mata sekretaris Baskoro yang tetap tenang—sebuah guncangan batin yang membuatnya merasa dunia baru saja memuntahkan nisan palsu—sebelum akhirnya ia melonggarkan cengkeramannya dengan jemari yang gemetar hebat."Den Arya, jangan di sini, pangkalan pusat sudah memonitor koordinat ini!" bisik wanita itu sembari melirik sisa ledakan fuso Slamet yang masih berasap."Bajingan! Kowe semua buat aku seperti anak kucing yang dipermainkan nasib!" Arya meludah ke aspal yang masih terasa panas, sebuah reaksi fisik atas amarah yang mencapai titik didih.Sonya merangkak mendekat sembari mendekap Anya, jubah mandi sutranya yang koyak memperlihatkan bahu yang le
Read More