Begitu mobil mewah itu berhenti di depan mulut gang, Adam segera turun dengan langkah terburu-buru, mencoba menghalau rasa panas yang membakar wajahnya. Sesampainya di rumah, ia langsung terduduk di kursi kayu ruang tamu, memejamkan mata rapat-rapat karena uap mentol masih menyengat matanya hingga berair."Adam, jangan dikucek! Nanti makin parah," seru Areta yang datang dari dapur membawa baskom kecil berisi air dingin dan handuk lembut.Areta berlutut di depan Adam. Ia melepaskan kacamata tebal suaminya, meletakkannya di meja, lalu memeras handuk dingin itu. "Sini, diam ya. Maafkan aku, aku benar-benar tidak tahu kalau kulitmu sesensitif ini."Sentuhan handuk dingin itu seketika memadamkan api di wajah Adam. Ia mengembuskan napas lega yang panjang. Namun, saat rasa perih itu mereda, Adam perlahan membuka matanya.Saat itulah dunianya seolah berhenti berputar.Tanpa kacamata tebalnya, pandangan Adam menjadi sangat jernih. Di depannya, hanya berjarak beberapa sentimeter, wajah Areta ta
Last Updated : 2026-01-17 Read more