Share

Karena Handuk Baru

Penulis: Chili Cemcem
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-21 14:58:24

Tatapan Areta menyapu sekeliling ruang tamu yang sempit itu. Tumpukan kain, bau minyak angin yang masih tersisa, dan bayangan gedoran pintu Tante Linda tadi membuatnya merasa tidak tenang. Rumah ini terasa terlalu terbuka, terlalu rentan untuk disatroni orang-orang jahat lagi.

"Adam," panggil Areta pelan sambil merapikan beberapa helai kain yang berantakan. "Aku merasa tidak nyaman lagi di sini. Setelah kejadian tadi, aku merasa seolah-olah setiap bayangan di luar jendela adalah orang suruhan Stefi."

Adam mengangguk mengerti. "Aku tahu, Are. Kamu pasti syok."

"Bagaimana kalau kita pindah sementara ke butik?" usul Areta, matanya mendadak berbinar. "Butikku punya sistem keamanan yang lebih baik. Ada kamera pengawas, dan pintu depannya sangat kokoh. Di sana juga ada kamar pribadi yang biasa aku gunakan untuk istirahat, lengkap dengan kamar mandi dalam. Kita bisa sekalian fokus mengerjakan pesanan Nyonya Dewi tanpa perlu bolak-balik naik mobil bututmu yang mogok itu."

Adam terdiam sejenak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pria Culun Itu Suamiku   Telur Crunchy

    Setelah kepergian Luna, Areta membantu Adam merapikan meja potong yang kini beralih fungsi menjadi meja makan darurat. Saat ia menarik tumpukan tisu dari dalam tas besar tadi untuk membersihkan sisa saus yang menetes, selembar kertas tebal dengan kop surat resmi terjatuh ke lantai.Areta memungutnya. Matanya membelalak saat membaca baris demi baris teks formal di sana."Nota Kontrak Pemindahan Aset... Keluarga Linda?" gumam Areta tak percaya. "Laporan likuidasi seluruh butik Stefi ke pihak ketiga? Adam, kenapa dokumen rahasia perusahaan sebesar Rajawali Jaya ada di dalam tas makanan kita?"Jantung Adam berdegup kencang. Ia mengutuk kecerobohan Luna yang terlalu bersemangat memberikan laporan. Namun, dengan kecepatan berpikir seorang CEO, ia langsung memasang wajah bingung yang polos."Oh, itu!" Adam mengambil kertas itu dengan tangan yang sedikit gemetar—sengaja dibuat agar terlihat gugup. "Tadi Luna bilang, Mama Vero minta dia membawakan beberapa berkas sampah dari kantor untuk dijad

  • Pria Culun Itu Suamiku   Kedalaman Rasa

    "Nah, ini dia pria jenius kita."Adam tersentak. Nyonya Dewi duduk di sana sambil menyesap teh melati, menatap Adam dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh selidik. Rupanya, setelah dari rumah sakit, Nyonya Dewi langsung meluncur ke butik untuk memastikan detail kain pearl-dust yang dibicarakan kemarin."Nyonya Dewi? Anda sudah di sini sepagi ini?" tanya Adam, berusaha menyembunyikan keterkejutannya.Nyonya Dewi meletakkan cangkir tehnya perlahan. Ia berdiri dan berjalan mengitari Adam, persis seperti seorang detektif yang sedang memeriksa barang bukti. Matanya memicing, menatap postur tegap Adam di balik kemeja flanelnya."Aneh sekali," gumam Nyonya Dewi. "Tadi di rumah sakit, saya sempat melihat seorang pria di koridor VIP. Postur tubuhnya, cara bahunya bergerak saat berjalan... sangat mirip denganmu, Adam. Padahal dia memakai setelan jas yang harganya mungkin bisa membeli butik ini."Jantung Adam berdegup kencang, namun ia tetap menundukkan kepala, kembali ke mode culunnya. "Ah..

  • Pria Culun Itu Suamiku   Panggilan Darurat

    "Maaf, Are. Aku tidak bermaksud mengendap-endap," ucapnya dengan suara rendah yang terdengar tulus. "Sebenarnya ... aku dapat kabar semalam kalau ada kerabat jauhku yang bekerja di pabrik tekstil mengalami kecelakaan kerja. Dia sudah seperti kakak sendiri bagiku. Pikiranku tidak tenang, aku ingin menjenguknya sebentar."Areta menaikkan sebelah alisnya, masih terlihat sangsi. "Kerabat? Kenapa harus sembunyi-sembunyi? Kenapa tidak membangunkanku dan minta izin?""Aku tidak mau merepotkanmu, Are. Kamu sudah lelah seharian di butik, dan aku tahu kamu trauma dengan kejadian semalam," jawab Adam pelan.Tepat saat Areta hendak membalas, sebuah suara dering nyaring memecah ketegangan. Bukan dari ponsel Adam, melainkan telepon kabel butik yang ada di atas meja resepsionis.Kring! Kring!Mereka berdua tersentak. Siapa yang menelepon butik mode pada pukul setengah lima pagi? Areta segera melangkah ke meja resepsionis dan mengangkat gagang telepon."Halo? Butik Areta Niku di sini," ucap Areta den

  • Pria Culun Itu Suamiku   Alasan

    Lampu kamar telah dipadamkan, menyisakan temaram lampu jalan yang menyusup tipis dari sela gorden butik. Di atas ranjang queen size itu, Adam dan Areta berbaring saling memunggungi. Sebuah guling besar menjadi pembatas kaku di tengah mereka, namun tak mampu membendung ketegangan yang merayap di udara.Areta memejamkan mata rapat-rapat, berusaha mengusir bayangan punggung atletis Adam yang dilihatnya di kamar mandi tadi. Namun, indranya justru menjadi sangat tajam. Ia bisa mendengar gesekan pelan sprei saat Adam bergerak, bahkan aroma sabun mandi yang maskulin dari tubuh suaminya seolah memenuhi paru-parunya.Tiba-tiba, keheningan itu pecah oleh getaran kasar dari atas nakas.Bzzzt... Bzzzt...Itu ponsel jadul milik Adam. Adam tersentak, segera menyambar benda itu sebelum getarannya membangunkan Areta. Ia melirik layar monokrom yang berpendar biru di kegelapan. Sebuah pesan singkat (SMS) dari Luna masuk.[URGENT: Tuan, terjadi kecelakaan kerja di Pabrik Sektor 4. Kepala produksi memint

  • Pria Culun Itu Suamiku   Karena Handuk Baru

    Tatapan Areta menyapu sekeliling ruang tamu yang sempit itu. Tumpukan kain, bau minyak angin yang masih tersisa, dan bayangan gedoran pintu Tante Linda tadi membuatnya merasa tidak tenang. Rumah ini terasa terlalu terbuka, terlalu rentan untuk disatroni orang-orang jahat lagi."Adam," panggil Areta pelan sambil merapikan beberapa helai kain yang berantakan. "Aku merasa tidak nyaman lagi di sini. Setelah kejadian tadi, aku merasa seolah-olah setiap bayangan di luar jendela adalah orang suruhan Stefi."Adam mengangguk mengerti. "Aku tahu, Are. Kamu pasti syok.""Bagaimana kalau kita pindah sementara ke butik?" usul Areta, matanya mendadak berbinar. "Butikku punya sistem keamanan yang lebih baik. Ada kamera pengawas, dan pintu depannya sangat kokoh. Di sana juga ada kamar pribadi yang biasa aku gunakan untuk istirahat, lengkap dengan kamar mandi dalam. Kita bisa sekalian fokus mengerjakan pesanan Nyonya Dewi tanpa perlu bolak-balik naik mobil bututmu yang mogok itu."Adam terdiam sejenak

  • Pria Culun Itu Suamiku   Jangan Cemas, Are

    Tante Linda merampas bolpoin dari tangan Adam dengan tergesa. Tanpa membaca lebih teliti lagi, ia membubuhkan tanda tangan di atas materai. Baginya, lembaran kertas itu adalah tiket keselamatannya dari kejaran mobil-mobil hitam yang mengintai di kegelapan gang."Sudah! Sekarang suruh mereka pergi!" teriak Tante Linda histeris.Adam mengambil kertas itu, meniup tintanya sejenak, lalu memberikannya kepada Areta. Namun, sebelum Areta sempat menyentuhnya, cahaya lampu biru-merah tiba-tiba berputar di dinding rumah mereka. Suara sirine polisi meraung pendek, memecah kesunyian malam.Dua mobil polisi berhenti tepat di depan pintu, disusul oleh sebuah sedan mewah milik pengacara keluarga Linda. Dari dalam mobil, Stefi keluar dengan langkah angkuh, meski wajahnya masih menyimpan sisa trauma."Itu mereka, Pak Polisi! Tangkap pria itu!" Stefi menunjuk ke arah Adam dengan wajah penuh dendam. "Pria kacamata itu sudah memeras ibu saya! Dia menggunakan ancaman preman agar ibu saya menyerahkan aset d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status