LOGINMalam semakin larut di sayap mewah kediaman Rajes. Arkadia sudah terlelap tenang di boks bayinya, sisa-sisa demam semalam benar-benar telah hilang. Areta duduk bersandar di kepala tempat tidur, dikelilingi oleh sketsa-sketsa gaun yang tersebar di atas sprei sutranya.Pintu terbuka pelan, Adam melangkah masuk dengan wajah lelah namun langsung cerah saat melihat pemandangan di depannya. Ia menaruh kunci mobil dan jam tangannya di nakas, lalu duduk di tepi tempat tidur, tepat di samping Areta."Masih bekerja, Sayang?" tanya Adam lembut, tangannya terulur merapikan anak rambut yang menutupi dahi Areta.Areta mendongak, matanya berbinar namun ada guratan keraguan di sana. "Adam, aku sedang melihat-lihat sketsa lama. Kamu ingat tidak? Kita menikah di kantor catatan sipil hanya dengan pakaian seadanya."Adam tertegun sejenak. Ingatannya kembali ke masa itu, saat ia masih menyamar sebagai penjahit pinggiran yang culun dan tampak tidak punya masa depan. Ia ingat bagaimana Areta, sang des
Suasana di kediaman mewah milik Papa Rajes siang itu terasa begitu hidup namun penuh dengan dinamika tersembunyi. Meskipun Adam dan Areta menempati salah satu sayap rumah yang sangat luas dan nyaman, tetap saja ada perasaan "menumpang" yang terkadang menghinggapi benak Adam sebagai seorang kepala keluarga.Begitu Mama Veronica dan Papa Rajes sampai di kamar cucu mereka, ketegangan semalam langsung mencair menjadi haru biru keluarga besar."Maafkan Mama, Are ... Adam ...." Mama Veronica berkali-kali menciumi tangan Arkadia yang sedang tertidur pulas setelah suhunya kembali normal. "ART baru bilang tadi di bawah. Kenapa kalian tidak telepon Mama semalam? Papa bisa langsung minta kolega dokternya datang ke sini jam itu juga!"Papa Rajes berdiri di samping boks bayi yang terbuat dari kayu mahoni berukir indah, bagian dari kemewahan rumah ini. "Betul, Dam. Di rumah ini, fasilitas apapun bisa kita datangkan secepat kilat. Lain kali, langsung lapor Papa. Jangan menanggung beban sendiria
Malam yang tenang di kediaman Adam dan Areta seketika berubah mencekam saat suara tangis Arkadia terdengar berbeda dari biasanya. Bukan tangis karena lapar atau popok basah, melainkan rintihan kecil yang menyayat hati.Areta yang pertama kali menyadarinya. Saat ia mengangkat Arkadia dari boks, telapak tangannya merasakan panas yang tidak wajar dari dahi sang putra.Kepanikan Ibu Baru“Adam! Adam, bangun!” teriak Areta dengan suara gemetar.Adam langsung terduduk tegak. Ia melihat Areta berdiri di tengah kamar dengan wajah pucat pasi, mendekap Arkadia yang wajahnya tampak kemerahan. Adam segera mengambil termometer digital dan menyentuhkannya ke dahi Arkadia.38,5° Celsius.“Dia demam tinggi, Adam. Bagaimana ini? Apa aku salah memberinya makan? Atau dia tertular virus saat kita ke supermarket kemarin?” Areta mulai menyalahkan dirinya sendiri, air matanya mulai jatuh. Tubuhnya yang masih dalam masa pemulihan mendadak terasa lemas.Adam Sang PenenangMelihat Areta yang hampir his
Suasana Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta pagi itu terasa begitu melankolis. Riuh rendah pengumuman keberangkatan dan langkah terburu-buru penumpang seolah menjadi latar belakang yang kabur bagi Luna dan Pierre. Di jari manis Luna, cincin berlian itu berkilau, menjadi satu-satunya benda yang membuat perpisahan ini terasa nyata namun tidak terlalu menyakitkan.Pierre berdiri di depan gerbang keberangkatan internasional. Ia memegang kedua tangan Luna, seolah enggan melepaskannya meski hanya untuk melewati pemeriksaan paspor.“Aku merasa seperti sedang meninggalkan separuh jiwaku di Jakarta,” bisik Pierre, menatap Luna dengan sorot mata yang sulit untuk berpaling.Luna mencoba tetap terlihat tegar, ciri khas sekretaris tangguh yang selama ini ia bangun. Ia merapikan kerah kemeja Pierre untuk terakhir kalinya. “Jangan berlebihan, Pierre. Kamu hanya pergi untuk menyiapkan tempat bagi kita. Ingat, aku tidak mau tinggal di apartemen yang berantakan di Paris nanti.”Pierre terkekeh, namun
Kehidupan di rumah setelah kepulangan dari rumah sakit ternyata tidak semudah sketsa gaun yang indah. Areta, yang biasanya perfeksionis dan terkontrol, kini berhadapan dengan realita menjadi ibu baru. Kurang tidur yang kronis dan perubahan hormon pascapersalinan membuat mood-nya menjadi sangat labil.Malam itu, jam menunjukkan pukul dua pagi. Arkadia baru saja terlelap setelah menangis selama dua jam karena kolik. Areta duduk di pinggir tempat tidur dengan rambut berantakan dan lingkaran hitam di bawah matanya.Adam, yang juga terjaga namun sempat terlelap sebentar di kursi, terbangun dan mencoba membantu. Ia mendekat dengan langkah pelan, membawa segelas air putih hangat.“Are, minumlah dulu. Kamu sudah sangat lelah,” ucap Adam lembut.Areta menoleh, namun alih-alih senyuman, tatapannya tajam dan penuh amarah yang tertahan. “Air? Kamu baru bangun dan menawariku air setelah aku berjuang sendirian menenangkan Arkadia selama dua jam?”Adam tertegun, mencoba tetap tenang. “Maaf, Ar
Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden kamar apartemen Luna terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Luna terbangun dengan senyum yang langsung mengembang di wajahnya. Ia tidak langsung beranjak, melainkan menyentuh puncak kepalanya, teringat usapan lembut Pierre semalam.Baru saja ia merenggangkan tubuh, ponsel di atas nakas bergetar. Nama “Pierre (Paris)” muncul di layar. Luna berdeham, mengatur suaranya agar tidak terdengar terlalu girang.“Halo?” ucap Luna, berusaha terdengar seperti orang yang baru bangun tidur tapi tetap profesional.“Selamat pagi, ma belle,” suara bariton Pierre terdengar segar di seberang sana. “Aku sudah berada di bawah, di depan lobi apartemenmu. Aku berpikir, sarapan di hotel sangat membosankan. Maukah kamu menemaniku sarapan sebentar lalu aku antar kamu berangkat kerja ke kantor Rajawali Jaya?”Luna bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju balkon dan mengintip ke bawah. Benar saja, mobil yang sama dengan semalam sudah terparkir manis di san
Stefi menyesap minumannya, matanya melirik ke arah pintu masuk kafe di mana seorang pria muda bertubuh atletis dengan wajah camera-face baru saja masuk. Pria itu adalah Raka, model pendatang baru yang haus ketenaran. Stefi sudah menjanjikan satu hal pada Raka, yaitu namanya akan meledak di semua por
“Nggak. Sejuta cukup kok,” ucap Areta sambil memasukkan amplop itu ke tasnya. “Lagian, biasanya aku boros karena sering traktir teman. Sekarang nggak akan. Nggak akan pernah. Mereka nggak pernah ada di saat aku susah. Jadi kalau sekarang mereka susah, bodo amat.”Adam mengangguk pelan, menatap istr
Pagi hari berikutnya, dengan lingkar mata yang mulai terlihat, Areta melangkah keluar kamar, masih mengenakan piyama sutra mahalnya, bersiap mencari kopi mahal di luar."Selamat pagi, Are," sapa Adam.Pria itu sudah duduk di depan mesin jahit industrinya yang besar. Ia sudah rapi dalam balutan keme
Areta keluar dari kamar dengan langkah pelan. Ruang tamu sudah kembali lengang. Dua perempuan tadi, Bu Sukma dan Bu Latifah tampak tidak ada lagi. Yang tersisa hanya Adam, duduk di kursi kayu rendah, tubuh sedikit membungkuk, fokus pada kain yang sedang ia jahit. Mesin jahitnya diam. Tangannya beker







