Leonhardt berjalan paling belakang. Langkahnya senyap, terukur. Bahunya masih setegak prajurit, namun ritmenya berubah—ada jeda kecil di tiap hentakan, seperti mesin yang dipaksa menyesuaikan ulang fungsinya setelah sistem utamanya dimatikan. Ia mempercepat langkah, menyamai Margarethe. Tidak menatapnya secara langsung. “Kau… baik-baik saja?” tanyanya singkat. Nada suaranya datar. Tidak lembut. Tidak defensif. Lebih seperti pengecekan keadaan setelah medan runtuh. Margarethe menoleh sedikit, memastikan suara itu nyata. “Belum tahu,” jawabnya pelan. “Tapi setidaknya… kita masih hidup.” Keheningan turun lagi—tipis, namun padat. Leonhardt mengangguk kecil. Gerakan hampir refleks—entah sebagai persetujuan, entah hanya tanda bahwa ia menyimpan sesuatu yang belum sempat diucapkan. Margarethe menyelipkan tangan ke dalam saku mantelnya. “Masih terlalu awal untuk simbolisme murahan, Herr Richter,” katanya tenang, nyaris sinis. “Tapi jangan khawatir. Aku sudah b
Baca selengkapnya